Posted by: aripmuttaqien | September 25, 2012

Warsaw: Seseorang yang (Tiba-Tiba) Hilang


Warszawa Centralna.

Lebih tepatnya “Warsaw Central Railway Station”.

Stasiun kereta tak pernah mati. Dan memang hampir disemua kota besar, stasiun kereta selalu hidup.

Stasiun kereta api selalu jadi persinggahan. Murah dan mudah dituju. Tak sulit temukan backpacker tidur di stasiun kereta.

Pagi ini, sebuah kereta tiba dari Wien setelah menempuh perjalanan 8 jam.

Kereta ini milik Österreichische Bundesbahnen.

Österreichische Bundesbahnen disingkat OBB. OBB adalah perusahaan kereta miliki pemerintah Austria. Di Indonesia bisa disebut PT. KAI. OBB menjangkau lebih dari 5.600 kilometer, membentang diseluruh Austria hingga negara-negara tetangga.

Swiss, Italia, Jerman, Ceko, Slovakia, dan Polandia. OBB menjangkau negara-negara tersebut.

Tak ada yang istimewa dari kereta ini. OBB hadir dengan kereta cepat. Cukup sekitar 8 jam dari Wien ke Warsaw, melewati tiga negara: Austria, Ceko, dan Polandia. Berturut-turut, negara dari barat ke timur. Berturut-turut, negara sejahtera ke negara dengan kesejahteraan lebih rendah. Berturut-turut, negara dengan keteraturan tinggi ke negara kurang teratur. Berturut-turut, negara dengan tingkat kriminalitas rendah, ke negara dengan kriminalitas lebih tinggi.

Aku sendiri duduk dalam kompartemen untuk enam orang. Tiga tempat duduk saling berhadapan. Namun hanya empat orang penumpang mengisi kompartemen ini.

Satu orang Indonesia. Dia adalah aku sendiri.

Dan tiga orang yang berbicara dengan bahasa yang tak aku kenal. Tampaknya bahasa Eropa Timur. Terlihat dari aksen Rusia. Semalaman mereka berbicara tanpa benar-benar tidur!

Aku sendiri mencoba tidur.

Lebih tepat dikatakan tidur ayam. Setengah tidur. Setengah tidak tidur. Ketika terbangun tengah malam, samar-samar terdengar tiga orang tertawa-tawa.

Mungkin dalam satu obrolan, mereka membicarakan seorang turis asing bodoh. Turis asing yang tak bisa bahasa Jerman. Tak bisa bahasa Polski. Bahkan tak bisa bahasa Rusia!

Aku hanya berbicara sedikit dengan mereka. Karena memang sangat ngantuk. Untunglah mereka bisa sedikit-sedikit bahasa Inggris. Ketika petugas kontrol tiket datang, terjadi sedikit masalah. Petugas tidak bisa bahasa Inggris. Aku terus berbicara dengan bahasa Inggris. Petugas tetap bicara bahasa Jerman. Komunikasi dua arah yang sangat tidak efektif! Apa yang disampaikan tak ada yang diterima dengan baik. Ibarat bicara A, namun terdengar B.

Salah satu penumpang dalam satu kompartemen akhirnya membantu menterjemahkan. Dia bisa bahasa Inggris dengan lancar. Dia mengerti apa yang aku katakan. Selesailah masalah ini. Petugas kontrol tiket pergi.

Bahasa Inggris tetap dianggap sebagai second language di daratan Eropa. Ini Eropa daratan. Eropa daratan tak akan suka dengan bahasa Inggris. Sejak kapan Inggris lakukan ekspansi ke daratan Eropa. Selama berabad-abad Inggris lakukan ekspansi laut. Atlantik ditaklukkan. Koloni-koloni tumbuh di benua Amerika.

Bahkan hingga hari ini Uni Eropa belum punya satu bahasa resmi. Uni Eropa memilih gunakan berbagai bahasa resmi. Tak mungkin negara-negara Eropa daratan terima bahasa Inggris dengan hati lapang.

OBB telah benar-benar berhenti.

Aku berjalan keluar dari gerbong kereta. Berjalan menyusuri peron menuju eskalator. Sebuah tas ransel menggantung dipundak. Tas ransel ini cukup berat. Mungkin sekitar 15 kilogram. Tas ransel compang-camping. Lebih tepat disebut sebagai tas untuk gelandangan. Dan memang aku adalah gelandangan untuk saat ini.

Rumus sederhana: ikuti orang-orang lain berjalan.

Aku mengikuti orang-orang naik eskalator. Cukup ramai. Banyak orang baru turun dari kereta.

Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Masih sangat pagi untuk ukuran orang Eropa. Namun stasiun sudah ramai dengan beragam aktivitas.

Papan informasi adalah tujuan pertama.

Tak sulit temukan papan informasi. Informasi bilingual memudahkan turis yang jelas tak bisa bahasa Polski.

Dengan tenang aku membaca tulisan di papan informasi.

Warsaw hanya punya satu jalur subway.

Metro warszawskie.

Dalam bahasa Inggris: The Warsaw Metro

Subway membentang 23 kilometer dari utara ke selatan dengan 21 stasiun.

Tiba-tiba terdengar suara seorang pria, “Hello, where are you come from?”

Aksen Amerika.

Aku menoleh ke asal suara. Seorang pria berumur 40an tahun. Seperti Joseph Stiglitz. Berewokan. Sebagian rambut sudah memutih. Perawakan sedang. Tidak terlalu besar. Tidak terlalu kecil. Tidak terlalu tinggi. Tidak terlalu pendek. Dia memakai baju lengan panjang.

I am from Indonesia,” aku menjawab ringan.

Ooohhh… Indonesia. I know.” kata pria itu. “And btw, is it your first time in Warsaw?” lanjutnya.

Yes sir. From Vienna last night,” jawabku.

Aku kembali membaca papan informasi.

Pria itu kembali berbicara, “I think you should explore this city. Actually, Warsaw is not greater than Vienna, Munich, Berlin, or Paris. But, Warsaw is nice city. If you need discotheque, you can find in the central city.”

Aku menyimak. “Ok. Thank you” aku merespon ringan.

Btw, what about Krakow?” aku bertanya.

Hmmm…Krakow is very beautiful. But you can find historical site. Krakow is the second largest city in Poland. It is also the oldest city in Poland. You can find Krakow as a concentration camp city. Hitler government conquered this city. And you know what happen? Too many Jewish people died. You should go there.”

Menarik. Aku memang ingin pergi ke Krakow. Seorang teman yang sudah pernah pergi ke Polandia sangat menyarankan agar aku pergi ke Krakow. Krakow adalah kota indah. Begitu dia menceritakan.

Interesting !” jawabku singkat.

How I can go to Krakow?” tanyaku lagi.

You can buy ticket to Krakow. Everyday, there are two departs, I think. Btw, just go upstairs. Choose number # 3. The salesperson can speak English fluently. ” jawab pria itu.

Aku masih berdiri ditempat semula. Tak ada perpindahan. Hanya menggeser tas ransel yang terasa berat dipunggung.

Aku menoleh, mencari eskalator. Ya itu eskalator. Sebuah eskalator. Sekitar 50 meter disebelah kiri.

Thank you very much,” aku menoleh ke pria itu.

Namun pria itu sudah tak ada.

Lenyap.

Penasaran. Aku menoleh ke segala penjuru arah. Tak berhasil. Pria itu sudah lenyap bagai ditelan bumi.

Ya sudahlah. Sebaiknya aku segera naik eskalator.

Lima menit kemudian. Aku sudah berada didepan loket nomer 3. Sesuai dengan saran pria itu.

Lima menit kemudian. Transaksi sudah selesai. Tiket pergi pulang Warsaw – Krakow untuk besok hari sudah ada. Menyenangkan.

Aku berdiri sekitar 20 meter dari loket nomer 3. Memandangi tiket ditangan. Tiket ini berwarna putih. Disitu tertulis jam keberangkatan.

Baiklah. Besok aku akan pergi ke Krakow. Menikmati keindahan kota tertua di Polandia.

Aku hendak berjalan. Melangkah kedepan. Tiba-tiba terdengar suara seorang pria, “Hi sir, have you gotten your ticket?

Aku kenal dengan suara ini. Seperempat jam yang lalu kami asyik bercakap-cakap.

Spontan aku menoleh ke asal suara.

Yes, this is my ticket” kataku kepada pria berwajah mirip Joseph Stiglitz. Dia berdiri disebelahku sambil melihat tiket yang kutunjukkan padanya.

Good ! Enjoy your Krakow!” kata dia.

Thank you,” jawabku singkat. Aku kembali mengamati tiket ditangan.

Ketika aku menoleh ke sebelah, pria itu sudah menghilang. Tidak berbekas. Aku menoleh ke segala penjuru arah, tak ada lagi.

Entah, siapa pria itu.

Datang dan hilang.

Advertisements

Responses

  1. Hiii.. ngeri ahh..
    Btw, aku pernah kesana. Warsawa menyenangkan. Krakow juga bagus. Beli tiket harian aja kalo niat jalan keliling kota, lebih hemat, apa lagi kalau kita punya ISIC ^^. Happy travelling!

  2. itulah, saya masih penasaran siapa makhluk itu,
    2 years ago,

  3. Cerita loe KEREN! Bikin novel gih!

  4. @Aad
    hehehe, ide menarik juga,
    jadi tulisan gw harus bisa nulis serius dan nulis ringan (novel), hehehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: