Posted by: aripmuttaqien | September 3, 2011

Secuil Kisah di Lampung


Pada Idul Fitri 1432 H atau tahun 2011 penanggalan Masehi, aku merayakan di Lampung, tepatnya di Lampung Timur. Tidak ada banyak perubahan ketika aku terakhir berkunjung sekitar 2 tahun yang lalu. Suasana pertama yang aku tangkap adalah panas dan gersang. Dan memang benar, ketika aku bertanya dengan orang sini, mereka mengatakan “Disini sudah lama musim kering kerontang dan sudah lama tidak turun hujan.” Tentu bisa dimaklumi jika tanah menjadi gersang dan berdebu.

Disini bermukim keluarga besar dari pihak ibu. Kakek dan nenek tinggal di Lampung sejak tahun 1953. Mereka adalah satu dari 34 pasangan dalam rombongan transmigrasi dari Pulau Jawa. Saat ini, hanya 2 orang yang masih hidup didunia.

Transmigrasi adalah pemindahan penduduk dari Jawa ke luar Jawa. Kebijakan ini bermula dari politik etis atau politik balas budi di era kolonial Belanda awal abad ke-20 atau akhir abad ke-19. Jauh dari kesan yang digembor-gemborkan pemerintah. Transmigrasi justru adalah pilihan terakhir bagi yang tidak punya pekerjaan. Jika sudah melarat di Jawa dan tidak punya pekerjaan, maka transmigrasi adalah salah satu pilihan sulit. Sungguh tidak mengenakkan memilih transmigrasi.

Pada politik etis, transmigrasi beralih fungsi untuk tenaga kerja murah pada perkebunan diluar Jawa. Kala itu memang perkebunan menjadi primadona bagi kolonial Belanda. Setelah merdeka, citra transmigrasi beralih pada warga negara yang tidak punya pilihan apapun. Transmigrasi berarti “dibuang” ketempat terpencil, pelosok, tidak ada fasilitas, dan “babat alas”.

Saat rombongan transmigrasi datang pada tahun 1953, daerah ini masih hutan belantara. Pohon-pohon besar berusia puluhan tahun. Daerah-daerah tak bertuan. Rawa-rawa tak berpenghuni. Bahkan kerap dikaitkan dengan mistis atau dedemit sebagai penunggu hutan belantara. Sebagai rombongan pendatang, kerapkali mereka “diganggu” teman dari dunia lain.

Tak ada fasilitas apapun disini. Tak ada rumah, toilet, jalan raya, dan listrik. Ketika mereka datang, hanya ada satu jalan tanah selebar 4 meter. Jalan tanah ini hanya bisa dilalui sapi dan gerobak. Saat itu tentu belum ada mesin pembajak sawah, motor, apalagi mobil. Lalu mereka melebarkan jalan. Saat itu tidak ada bayangan seperti apa masa depan. Yang mereka lakukan hanya “babat alas” dan mengubah hutan belantara menjadi lebih nyaman untuk ditinggali.

Tanah Sumatera tidaklah terlalu subur dibandingkan dengan tanah Jawa. Hasil pertanian tidak sebagus di Jawa. Bagi masyarakat agraris, tentu menjadi masalah besar karena hidup mereka tergantung pada hasil pertanian. Bagi rombongan transmigran, mereka harus bersusah payah menyesuaikan diri dari “lingkungan manja” yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma dalam bentuk kesuburan tanah di Pulau Jawa.

Mereka melakukan apa yang bisa dilakukan. Mereka menebang hutan belantara menjadi hunian. Mereka membangun rumah secara bergotong royong. Mereka membuat ruas jalan baru. Bahkan mereka menggali tanah keras untuk dibuat menjadi aliran sungai. Ya! Sebuah sungai! Bagaimana mereka membuat sungai? Tahun 1958, mereka menggali sepanjang belasan kilometer dari aliran sungai utama ke arah perkampungan transmigran. Selanjutnya, irigasi ke area sawah menjadi lebih lancar.

Sebuah pasar yang terdekat terletak sekitar 5 kilometer dari perkampungan transmigran. Pasar itu tidaklah komplet. Untuk membeli kebutuhan yang lebih lengkap, mau tidak mau harus pergi ke kota terdekat.

Daerah ini terpelosok. Mereka terisolasi dari dunia luar. Untuk menuju kota terdekat, mereka harus menempuh 30 kilometer. Jangan dibayangkan kondisi saat itu sama dengan saat ini. Tidak ada jalan raya beraspal sepanjang 30 kilometer. Tak ada mobil angkutan umum. Tak ada sepeda motor. Jika mereka butuh keperluan rumah tangga yang lebih komplet, mereka harus jalan kaki sepanjang 30 kilometer selama setengah hari atau 12 jam. Jangan pula membayangkan jalan kaki dengan melewati perumahan penduduk. Mereka harus menempuh jalan setapak melewati hutan belantara, tanah kosong, dan pinggir sungai. Kadang mereka harus bermalam di kecamatan terdekat sebelum melanjutkan perjalanan ke kota. Ini dilakukan ketika hari sudah malam. Baru ketika mendekati daerah kota, mereka akan menemukan ruas jalan yang lebih manusiawi.

Sebagai konsekuensi dari negara yang baru merdeka, perekonomian masih belum stabil. Produksi masih rendah. Harga bahan kebutuhan pokok masih sangat mahal. Daya beli masyarakat masih rendah. Saat itu adalah “jaman susah”. Begitu kosakata yang sering diungkapkan untuk menggambarkan kondisi republik yang masih tertatih-tatih.

Untuk membeli baju lengan pendek, seorang petani perlu menjual 1 kuintal padi hasil panen. Harga baju untuk wanita lebih mahal lagi. Sebuah satu set baju wanita terdiri dari baju atas dan jarik (kain selendang) butuh sekitar 3 kuintal padi.

Fasilitas pendidikan? Ini adalah pikiran yang terlalu ideal. Tidak ada bangunan Sekolah Dasar pada saat itu. Sampai akhirnya, seorang penduduk merelakan rumah sebagai tempat sekolah sementara bagi anak-anak rombongan transmigran. Seorang guru bantu didatangkan dari kota terdekat untuk mengajar. Paling tidak kebutuhan pendidikan dasar sudah terfasilitasi. Soal kualitas? Tidak usah dibicarakan saat itu.

Komunikasi dengan dunia luar benar-benar tersendat. Untuk urusan surat menyurat butuh waktu berhari-hari. Maklum, tukang pos pengantar surat butuh usaha ekstra keras untuk melewati hutan belantara. Berbeda dengan saat ini, kita cukup menekan nomor di handphone, dan dalam sekejap sudah bisa bercakap-cakap dengan orang lain.

Pemerintah memberi bantuan dalam bentuk lahan dan uang. Tiap keluarga mendapat jatah 2 hektar tanah untuk digarap dan sebuah wilayah untuk rumah hunian. Tapi semua masih tanah kosong dan belum bisa langsung digunakan. Mereka harus mengolah dari nol. Hutan belantara diubah menjadi areal sawah. Mereka menebang hutan. Kayu digunakan untuk membangun rumah. Mereka mencangkul sawah. Sapi digunakan untuk membantu membajak sawah. Baru selanjutnya areal sawah bisa ditanami.

Berpuluh-puluh tahun kemudian areal transmigran berkembang pesat. Area ini bernama Kabupaten Lampung Timur, Kecamatan Purbolinggo. Kecamatan Purbolinggo dibagi menjadi beberapa desa dengan nama berdasarkan abjad. Ini dia nama desa:

A: Taman Asri

B: Taman Bugo

C: Taman Cari

D: Tambah Dadi

E: Taman Endah

F: Taman Fajar

G: Tegal Gondo

H: Toto Harjo

I: Tanjung Intan

J: Tegal Joso

K: Tanjung Kesumo

L: Tambah Luhur

M: Toto Mulyo

N: Taman Negeri

O: Tegal Ombo

P: Toto Projo

Q: Tanjung Qencono

S: Tambah Subur

T: Tanjung Tirto

Beberapa akhir tahun ini, Kecamatan Purbolinggo dipecah menjadi dua kecamatan, alias pemekaran wilayah, yaitu menjadi Kecamatan Purbolinggo dan Kecamatan Way Bungur. Desa dari Toto Mulyo hingga Tanjung Tirto dimekarkan menjadi Kecamatan Way Bungur.

Apa yang menarik dari nama desa diatas? Semua nama desa berbau bahasa Jawa. Tidak mengherankan karena mayoritas penduduk adalah transmigran. Banyak nama-nama daerah di Lampung yang berbau Jawa dan menyalin nama daerah di Jawa. Misalnya, Kecamatan Purbalingga seperti yang aku ceritakan. Lalu ada pula Pekalongan, sebuah kecamatan yang berbatasan dengan Purbolinggo yang kebetulan adalah nama sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Ada pula nama lain seperti Sukadana, Bumi Jawa, Jepara (sebuah kecamatan), Pringsewu (sebuah kabupaten di Lampung bagian selatan), Bandar Surabaya, Kalirejo, Sukoharjo (tentu karena yang memberi nama banyak yang berasal dari Sukoharjo, sebuah kabupaten di Jawa Tengah), Sumberejo, dan lain-lain.

Lampung adalah daerah pertama yang jadi sasaran daerah transmigrasi sejak era kolonial Belanda. Jika melihat komposisi penduduk saat ini, terdiri dari 7,6 juta jiwa, yaitu 62 % suku Jawa, 25 % suku Lampung, dan 9 % suku Sunda. Tidaklah mengherankan bahasa Jawa sudah menjadi bahasa sehari-hari di Lampung.

Inilah secuil kisah selama lebaran di Lampung. Memang tidak menceritakan kisah khusus tentang lebaran. Namun ketika mampir ke Lampung kali ini, aku teringat dengan transmigrasi, karena kebetulan aku terlahir dari keluarga transmigran. Dan bahwa transmigrasi bukanlah hal mudah bagi pelaku. Transmigrasi, bagi sudut pandang pelaku, adalah pilihan terakhir yang berarti membangun dari nol. Namun inilah yang justru membentuk mental menjadi lebih tangguh.

Advertisements

Responses

  1. mudah-mudahan

    kehidupannya akan berubah lebih baik lagi yach di Lampung…

    ammiiiiinn….:)

  2. aku lahir di sana tepatnya di desa Taman fajar.. dan besar di jakarta.

  3. […] Secuil Kisah di Lampung June 24, 2012 @ admin → No Comments Catatan: Tulisan ini diambil dari blog. […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: