Posted by: aripmuttaqien | July 28, 2011

Dunia Islam: Berhentilah (Hanya) Menengok Masa Lalu


Berbicara tentang dunia Islam, dengan populasi 21 % – 23 % penduduk dunia, Islam jadi agama terbesar kedua didunia. Bahkan Islam tercatat sebagai agama dengan pertumbuhan tertinggi memasuki abad ke-21. Tentu saja disumbang oleh pertumbuhan populasi yang lebih tinggi dari rata-rata dunia.

Tak ada yang meragukan bahwa Islam telah menorehkan tinta emas peradaban (Islamic Golden Age). Kejayaan dimulai dari abad ke-8 hingga abad ke-13. Pada masa ini, filosof, ilmuwan, dan teknokrat Islam memberi sumbangsih luar biasa. Wilayah kejayaan Islam membentang dari jazirah Persia, Arab, Afrika Utara, bahkan hingga Spanyol bagian selatan. Sumbangsih dibidang kesehatan, arsitektur, ilmu bintang, hingga pelayaran telah dicatat sebagai perjalan penting peradaban dunia.

Pedagang Islam juga turut berpatisipasi dalam perdagangan. Merujuk sejarah, hingga abad ke-15, Produk Domesti Bruto (PDB) global didominasi oleh China dan India (Angus Madison, Contours of the World Economy). Sesungguhnya dominasi China dan India tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Islam. India pernah diperintah oleh dinasti Islam hingga abad ke-16. Pedagang China punya hubungan kuat dengan pedagang Muslim pada abad pertengahan. Muslim di China mulai memberi dampak besar bagi perekonomian dan ekspor/impor perdagangan sejak masa Dinasti Song (960 – 1279). Kejayaan ini dilanjutkan di masa Dinasti Yuan (1279 – 1368) dan Dinasti Ming (1368 – 1644).

Perubahan besar adalah ketika kolonialisasi oleh negara-negara Eropa Barat. Sesaat ketika kejayaan Islam berakhir, jarum pendulum berganti arah. Secara konsisten, dominasi China dan India menurun dan digantikan oleh dominasi Barat. Perdagangan dikuasai oleh Barat. Demikian pula dengan ilmu pengetahuan. Ibarat dua mata kunci yang tidak bisa dipisahkan. Siapa yang menguasai ilmu pengetahun, maka bisa menjadi penguasa perekonomian.

Bagaimana dengan kondisi hari ini? Dominasi perekonomian Barat memang makin turun seiring dengan kebangkitan Asia (China, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan India). Namun China dan India hari ini berbeda dengan China dan India di abad kejayaan Islam. Islam tidak lagi mendominasi sistem di China dan India.

Bagaimana dengan dunia Islam? Fakta menunjukkan bahwa ummat Islam masih tertinggal diberbagai bidang. 57 negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) memiliki PDB sebesar US $ 4,05 trilyun, atau kurang dari 80 % PDB Jepang. 17 dari 48 negara terbelakang (least developed countries) adalah negara Muslim. Ranking index pembangunan manusia pada negara dominasi Muslim juga tertinggal dibandingkan negara non Muslim. Negara-negara Muslim berada di kelompok negara berkembang Jika merujuk pada karakter kejujuran dengan ukuran perilaku korupsi, ranking rata-rata negara Islam adalah 116, dengan ranking tertinggi adalah Qatar (ranking 19) dan terendah adalah Somalia (ranking 178).

Bagaimana dengan implementasi nilai-nilai Islam? Penelitian yang dilakukan Scheherazade Rehman dan Hossein Aksari dalam Economic Islamity Index (2010) menegaskan bahwa “self-declared Islamic countries have not by-and-large adhered to Islamic principles”. Bahkan ranking rata-rata negara Islam lebih rendah dari negara OECD (Organization for Economic Co-Operation and Development) yang notabene-nya negara non Muslim. Bukan indikator “formalitas Islam” yang digunakan, namun indikator lain yang “lebih membumi”, seperti kebebasan aktivitas ekonomi, keadilan dalam aspek perekonomian, akses ke pekerjaan layak dan penciptaan lapangan kerja, budget untuk pendidikan tinggi, kemiskinan, distribusi kesejahteraan, infrastruktur kesejateraan sosial, tingkat investasi, tingkat tabungan masyarakat, standar moral masyarakat, sistem finansial Islam, PDB, hutang luar negeri, dan perlindungan terhadap lingkungan hidup. Indikator tersebut tentu “lebih aplikatif” daripada hanya “formalisasi syariat Islam” dalam tataran kenegaraan.

Alih-alih membangun kesejahteraan, sebagian dari kita masih terjebak pada “formalitas syariah Islam”, namun lupa berpikir bagaimana membangun masyarakat Islam yang lebih sejahtera. Sebagian dari kita masih suka terjebak dengan historia masa lalu. Mereka terlalu senang mengenang dan membanggakan era kejayaan Islam, sembari menyesali runtuhnya Khalifah Turki Ustmani (1924) yang dianggap sebagai akhir dari sistem khalifah Islamiyah.

Padahal jika mengacu pada masa kejayaan Islam, peranan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu besar. Disinilah yang dilupakan dunia Islam. Kita lupa berpikir, seberapa banyak doktor yang dihasilkan ummat Muslim? Seberapa banyak professor Muslim yang mendapat penghargaan internasional?

Fakta membuktikan bahwa dari 176 ribu doktor lulusan Amerika Serikat tahun 1983 – 2003, separuh dari mereka berasal dari empat negara Asia (China, Taiwan, Korea Selatan, dan India). Era kebangkitan China dan India tidak muncul dari sekejap. Namun muncul dari akumulasi pengetahuan selama puluhan tahun. Sementara itu, jumlah doktor di Indonesia baru sekitar 0,01 % populasi .

Ummat Islam masih suka berdebat dan terjebak kecurigaan berlebihan pada nilai-nilai Barat, perang pemikiran, dan prasangka berlebih dengan Barat. Tengoklah China dan India, mereka aktif belajar ke Barat, menuntut ilmu dari berbagai perguruan tinggi dan perusahaan. Lihatlah apa yang terjadi sekarang. China menorehkan rekor dunia, seperti jembatan terpanjang, kereta api super cepat, jaringan kereta api terpanjang, dan stasiun luar angkasa masa depan. India berhasil membangun pusat teknologi informasi.

Ummat Islam jangan hanya terjebak melihat gemerlap masa lampau. Masa lalu biarlah menjadi sejarah untuk diambil hikmah. Sudah saatnya ummat Islam mempersiapkan diri untuk merebut masa depan. Keberhasilan Barat mengambil alih perdagangan dari Islam adalah karena Barat tidak ragu untuk belajar dari Islam. Barat belajar ilmu pengetahuan dan teknologi dari dunia Islam.

Saat ini, kita harus berpikir untuk belajar dari Barat. Belajar ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki mereka. Keunggulan ummat Islam adalah memiliki panduan nilai-nilai aklaq yang bersumber dari Al Quran dan Al Hadits. Kita tidak hanya butuh nilai agama untuk menguasai dunia. Namun ilmu agama harus dilengkapi dengan penguasaan ilmu pengetahuan.

Sekali lagi, berhentilah menatap masa lalu. Masa lalu hanyalah seonggok catatan sejarah. Mari bermimpi untuk mempersiapkan masa depan. Rebutlah kejayaan yang sekarang dipegang bangsa lain. Dan semua dimulai dari diri kita, yaitu kesadaran diri kita sendiri.

Advertisements

Responses

  1. artikel yang sungguh
    menambah inspiratifku….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: