Posted by: aripmuttaqien | December 23, 2008

Mengejar Beasiswa (1) : Erasmus Mundus


Aku termasuk salah satu orang yang memiliki impian sekolah di luar negeri. Tak terhitung berapa waktu yang sudah aku luangkan untuk mencari informasi beasiswa ke berbagai sumber. Sebagian besar informasi aku dapatkan dari internet melalui milis, blog dan situs beasiswa. Aku termasuk orang yang betah dan rajin mencari informasi dari internet. Puluhan situs beasiswa sudah aku jelajahi dan puluhan situs universitas sudah aku kunjungi. Aku sudah terbiasa mengubek-ubek isi dari universitas seperti siapa professornya, bagaimana kurikulumnya, apa saja syarat-syaratnya dan sebagainya.

Aku diuntungkan dengan akses internet yang cenderung mudah. Sejak mahasiswa aku terbiasa menggunakan fasilitas internet di kampus, baik komputer jurusan maupun hotspot. Aku sudah banyak meng-akses soal-soal latihan TOEFL dan GRE (tapi sama saja dech…ga habis juga semua dibaca, hahaha). Ternyata soal-soal tersebut cukup membantu.

Aku sendiri baru mencoba apply beasiswa awal tahun 2008, yaitu Erasmus Mundus (Feb 2008). Ternyata belum rezeki, akhirnya coba-coba apply yang lain, seperti Italy (April 2008), Prancis (April 2008), Ford Foundation (Agustus 2008), Austalia (Agustus 2008), Jerman (September 2008), Jepang (Oktober 2008), Swiss (Oktober 2008) dan Eiffel Scholarship (Desember 2008). Berarti aku sudah apply sembilan beasiswa dalam tahun 2008. Wow…banyak juga ya.

Buat tahun 2009, aku apply empat beasiswa lagi. Apa saja? Erasmus Mundus (Jan 2009), DIKTI Depdiknas (Feb 2009), Total E&P Scholarship (Feb 2009) dan World Bank (Feb 2009).

Kalau membaca pengalaman dari milis beasiswa, ada yang apply tiap tahun, atau tiap tahun untuk dua beasiswa. Aku memiliki pemikiran ‘menebar jaring ke berbagai penjuru’. Pokoknya asal ada kesempatan dan merasa cocok, coba saja. Perkara seperti apa hasilnya, itu urusan nanti. Kalau tidak dicoba tidak mungkin bisa berhasil. Kalau gagal, itu akan menjadi pelajaran berharga.

Setelah membaca paragraf diatas, mungkin pembaca penasaran bagaimana kelanjutannya? Baiklah kawan, aku akan menceritakan sekilas saja. Semoga bisa menjadi pelajaran yang bermanfaat bagi pembaca. Untuk erasmus mundus (EM), aku termasuk calon yang gagal. Apa pasal penyebab gagal? Selidik dan selidik, ternyata ada kesalahan dokumen. EM memiliki puluhan bidang studi yang bisa kita pilih, mulai dari ilmu alam hingga ilmu sosial, mulai dari negara Eropa Timur, Skandinavia hingga Eropa Barat. Setiap program studi memiliki syarat dan proses masing-masing. Nah, aku melamar program studi Model and Methods in Quantitative Economics (QEM). Seluruh proses aplikasi dilakukan secara online. Patut diketahui bahwa terdapat program studi dengan proses aplikasi online, manual dan online-manual (campuran antara online dan manual). Untuk melihat program studi apa saja yang melakukan proses online, manual atau online-manual, bisa dilihat disini.

Sebelum mengajukan beasiswa, aku membaca seluruh informasi dari situs QEM, mulai dari bagaimana sistem pendidikan, berapa lama studi, bagaimana kurikulum, siapa saja profesornya, apa latar belakang profesor dan sebagainya. Maklum, jangan sampai kalau misalnya sudah berangkat ke sana ternyata program studinya tidak cocok. Males banget kan… Hehehe…

Seluruh syarat sudah aku penuhi. Saatnya aku mengirim secara online. Aku melakukan pendaftaran secara online dan mengirimkan berkas secara online. Namun ada satu dokumen yang ternyata tidak berhasil dikirim, yaitu surat referensi. Surat referensi dikirim langsung oleh pemberi referensi. Ada dua buah surat referensi. Satu surat dari pembimbing skripsi dan satu lagi dari pejabat di kampus (rahasia…hehe). Entah bagaimana, surat dari pejabat kampus tadi tidak terkirim dengan sempurna. Alhasil, komite beasiswa melihat bahwa syarat kurang lengkap dan aku langsung ditendang. Hahaha….

Pelajaran berharga adalah perhatikan baik-baik setiap proses yang ada. Tidak selalu proses online memberi kemudahan. Bagi yang gaptek, belum tentu proses online memberikan kemudahan. Namun bagi orang seperti aku, proses online tentu saja memberikan kemudahan dan menghemat biaya. Internet kan bisa numpang di kampus atau dilakukan setelah jam kantor selesai. Bandingkan jikalau kita mengirim dengan menggunakan Fedex atau DHL yang bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk sekali pengiriman.

Hal yang menjadi pelajaran berharga adalah GRE. Ketika aku apply QEM, saat itu aku belum memiliki GRE. GRE adalah semacam tes kemampuan umum untuk menguji kemampuan verbal, kuantitatif dan analisis. Aku mengirim aplikasi bulan Januari 2008 sementara aku baru ikut tes GRE bulan Maret 2008. Ingin mengetahui info lebih jauh tentang GRE? Silakan…

Kegagalan ini memberikan inspirasi untuk berjuang lagi.

Note : Silakan lanjut ke tulisan selanjutnya

Advertisements

Responses

  1. pertamax, GRE bukannya untuk field engineering bang?

  2. To: Websites administrator.
    Re: Replacement of domain http://www.ui.edu to http://www.ui.ac.id

    Dear Sir,
    Greetings from the university of Indonesia.
    I would like to inform you that from August 2008, the University of
    Indonesia (Universitas Indonesia) has changed its web domain and returned
    to http://www.ui.ac.id , based on the consideration that we use Indonesia (id)
    domain.

    We notice that in your web you have a link to our domain and would be very
    grateful if you could change the link in your web to http://www.ui.ac.id to point
    to our university.
    We appreciate you eagerness to collaborate with us, and look forward for
    further collaborative work with University of Indonesia’s member.

    Yours Sincerely

    Riri Fitri Sari
    CIO/ Head of Information Systems Development and services of the
    University of Indonesia
    7th floor Kampus Baru UI Depok 16424 Indonesia
    riri@ui.ac.id

  3. # Riri
    Ok, thank you. I’ll change web domain.

    # Zaky
    GRE = general record examination.
    Bukan hanya untuk teknik saja. Biasanya untuk masuk ekonomi juga butuh GRE. Jurusan lain yang juga butuh seperti science, sastra. Tapi ga semua universitas mensyaratkan GRE. Beda-beda kok. Bisa di cek ditiap universitas.
    Yang paling ketat butuh GRE adalah universitas US dan Kanada. Bisa dilihat diberbagai syarat, untuk masuk ke sana biasanya mereka minta GRE General. Bahkan beberapa minta GRE Subject (GRE yang khusus untuk subject tertentu misal fisika, biokomia, kimia, matematika, komputer, sastra inggris dll).
    Contohnya, saya apply bidang ekonomi, diminta GRE sebagai persyaratannya.

  4. Wah keren-keren..

    Semangatnya itu low..

    Bikin aku semangat juga Euy..

    Masalahnya aku tuwh pengennya cuman ke Jepang ajah jadi nyari-nyari infonya ya cuman sekitar beasiswa Jepang ajah..

    Tapi dari sini aku sadar, aku harus cari sebanyak-banyaknya buat bisa kuliah di Luar negeri..

    Semua harus dicoba..

    SemangatZ,…

  5. # bocahbancar
    Ya, ibarat menebar jaring ke berbagai penjuru. Kalau mau dapat ikan banyak, maka sebarlah ke semua penjuru mata angin. Cari daerah yang memiliki banyak ikan.
    Ayo cari! Orang Indonesia pinter-pinter kok. Pendidikan dasar di negara ini saja yang mengkerdilkan cara berpikir kita. Masih ingat saat sekolah? dulu terbiasa dicekoki, diam, dan tidak banyak bertanya.
    Menurut saya kuncinya adalah berani mencoba.
    Where there’s a Will, there’s a way
    (istilah yg terakhir ini bukan kampanye, ^_^, ini istilah umum)

  6. […] under Kisah Hidup | Tags: mengejar beasiswa | 1 Comment  Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya. Sebenarnya saat tanganku mulai menyentuh keyboard, mataku sudah ngantuk banget. Tak tahan ingin […]

  7. COngrats Bro..

    i’ll follow you to europe 🙂

  8. […] Masih ingat dengan cerita Erasmus Mundus di tahun 2008? […]

  9. […] silakan baca di blog, dimana saya menulis dalam 9 seri tulisan. Silakan di klik mulai dari seri 1 (http://aripmuttaqie n.wordpress. com/2008/ 12/23/mengejar- beasiswa- 1/) yg bersambung hingga seri 9 (http://aripmuttaqie n.wordpress. com/2009/ 08/03/mengejar- beasiswa- […]

  10. numpang tanya yah..
    GRE itu seperti apa ya??
    kalo boleh tau, pak ariep ambil test GRE nya dmn??

    makasi banyak..

  11. Okie, silakan googling…
    Atau baca disini http://www.ets.org/portal/site/ets/menuitem.fab2360b1645a1de9b3a0779f1751509/?vgnextoid=b195e3b5f64f4010VgnVCM10000022f95190RCRD

  12. makasi ya mas.. ^o^

  13. […] mendapatkan beasiswa. Jika ingin baca lebih lanjut, silakan dibaca tulisan berseri mulai dari sini. 23 Apr […]

  14. mas mau tanya,,kan tahun lalu sempet apply 9 beasiswa sekaligus dan setiap beasiswa pasti butuh reference letter,,nah pemberi reference letter itu ngebikinin 9 surat berbeda,,atau surat yang sama yang isinya general terus dikopi semblan kali???*soalnya tampak agak merepotkan minta 9 surat rekomendasi yang berbeda*

    makasih

  15. Hallo Ferri,
    saya minta terus, tidak pake foto copy,
    Isinya secara general sama saja. Cuma dibedakan dikit untuk spesifik, misal untuk beasiswa A, beasiswa B, dll.

  16. mas,numpang tanya lagi,,kalo buat beasiswa erasmus mundus, IPK mesti gede banget nggak?
    apa harus cum laude atau gimana?pengalaman mas sendiri gimana?
    makasih mas.

  17. IPK saya kecil

  18. Dear Mas Arip,
    aku sangat terkesan dengan perjuangan Mas mendapatkan beasiswa luar negeri. aku juga sedang berusaha, tapi masih tahap awal banget, pencarian informasi. seperti tulisan Mas Arip, aku kesulitan mencari surat referensi dari profesor di universitas luar negeri yang aku tuju. kalau boleh sedikit bercerita, aku sedang mencoba beasiswa S2 yang disediakan oleh kedubes di Indonesia. beberapa negara yang aku tuju mewajibkan adanya surat referensi dari profesor. bagaimana draft email pertama kali untuk menyatakan permohonan referensi. jika Mas Arip sempat, tolong di respon ya email aku ini. terimaksih

    salam sukses selalu
    Risya

  19. Dear Mas Arip,
    Ass..jujur nih saya salut bgt sm perjuangan mas arip utk ngedapetin beasiswa, saya excited bgt waktu baca smua crita mas arip dari awal smp akhir, sebenarnya saya juga sedang mencari-cari info ttg beasiswa ke perancis, tapi ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan ke mas arip, yaitu:
    saat ini saya masih kuliah di salah satu univ swasta dan sudah bekerja juga, tapi sudah mau skripsi, dan rencananya mau cari beasiswa s2 disana, apakah harus dari univ negeri yg punya peluang besar utk diterima?
    lalu, kalau saat ini aku masih berstatus mahasiswa dan blm lulus, apa boleh apply?kalau blm kapan yah kira2 waktu yg tepat utk aku apply?boleh aku tau ym nya mas?ada bnyk bgt nih sbnrnya yg pengen aku tanyakan, maklum aku kurang info bgt ttg hal ini..

    terima kasih

    Rahma

  20. @Risya,
    apakah harus dari univ negeri yg punya peluang besar utk diterima? –> saya pikir tidak. Ada beberapa teman disana yang dulu kuliah di swasta, bisa juga diterima. Tergantung bagaimana membuat aplikasi 🙂

    kalau saat ini aku masih berstatus mahasiswa dan blm lulus, apa boleh apply? –> boleh-boleh saja, kan tidak ada undang-undang yang melarang 🙂

    Saya sudah jarang online YM, sudah bukan jamannya lagi 😀
    Silakan kirim email saja: aripmuttaqien@gmail.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: