Posted by: aripmuttaqien | December 15, 2008

Golput haram? Apa pula ini?


Sekilas mencoba mencari tahu berita terakhir, ternyata ada petinggi negara mengusulkan untuk mengharamkan golput. Tidak bermutu sekali. Kenapa harus menggunakan lembaga keagamaan untuk legitimasi urusan politik semacam golput? Golput itu kan hak konstitusional warga negara. Seorang warga negara memiliki ‘hak’ untuk memilih. Tolong dibaca sekali lagi Pak Pejabat. Bukan ‘kewajiban’ untuk memilih. Jika menurut warga negara, pilihan tersebut buruk, ya sudah, tidak usah dipaksa untuk memilih. Ini lagi, kenapa pakai label ‘haram’ dan ‘halal’.
Tak usahlah pakai lembaga keagamaan. Seolah-olah menganggap bahwa masyarakat adalah anak TK yang perlu diajari untuk memilih. Rendahnya tingkat partisipasi rakyat untuk memilih terjadi karena ketidakdewasaan berpolitik dari elit-elit politik. Setiap partai di setiap Pemilu selalu menawarkan hal yang itu-itu saja, hanya dipoles sehingga terlihat memiliki ‘cover’ yang keren. Wajar donk kalau ada yang tak mau memilih!

http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/12/20574933/mui.tak.mungkin.keluarkan.fatwa.haram.golput

MUI Tak Mungkin Keluarkan Fatwa Haram Golput

Jumat, 12 Desember 2008 | 20:57 WIB

JAKARTA, JUMAT — Majelis Ulama Indonesia (MUI) belum tentu akan mengeluarkan fatwa haram seperti yang diusulkan oleh Ketua MPR Hidayat Nurwahid yang mengusulkan perlunya ada fatwa haram bagi mereka yang akan golput pada Pemilu 2009. Hal ini diungkapkan oleh Ketua MUI Amidhan saat dikonfirmasi Persda Network, Jumat (12/12) malam.

“Sebetulnya, fatwa mengharamkan golput tidak usah dikeluarkan karena kan yang golput tidak bisa dikatakan berdosa. Paling-paling, kita hanya bisa memberikan imbauan kalau masyarakat diwajibkan berpartisipasi untuk memikirkan nasib bangsa pada Pemilu nanti. Jadi, istilahnya imbauan saja, bukan fatwa,” kata Amidhan.

Sebelumnya, Hidayat Nurwahid di DPR mewacanakan perlunya ada fatwa melarang golput bagi umat Islam pada pemilu nanti. “Saya menyarankan agar dibuat fatwa antara MUI, NU, dan Muhammadiyah untuk mengeluarkan fatwa haram bagi golput. Ini perlu dilakukan karena banyak masyarakat yang sekarang apatis terhadap pemilu nanti,” kata Hidayat.

Amidhan kembali mengomentari pernyataan Hidayat Nurwahid, tinggi atau tidaknya angka golput pada Pemilu 2009 nanti haruslah dilakukan kajian mendalam terlebih dahulu, apalagi kalaupun fatwa dikeluarkan, jangan sampai mengesankan fatwa itu akan menjadi alat politik bagi pihak-pihak tertentu.

“Kalau baru sekadar isu akan tingginya golput, ya lebih baik dikaji dulu benar tidaknya. Kajiannya secara ilmiah. Fatwa itu kita keluarkan apabila kalau tidak dilaksanakan berdosa. Kalau mereka yang golput kan sifatnya tidak sampai ke sana. Jangan sampai, kami (MUI) mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram,” kata Amidhan.

“Ya kalau tidak dengan fatwa, paling imbauan saja untuk ikut berpartisipasi di pemilu. Jangan semuanya harus didasari dengan fatwa. Kita imbau saja, kalau perbuatan makruh itu adalah sebuah sifat yang dibenci. Kita berharap kepada KPK dan semua pihak untuk gencar melakukan sosialisasi pemilu dengan baik agar angka golput tidak tinggi pada pemilu nanti,” katanya lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: