Posted by: aripmuttaqien | October 29, 2012

Jogging + Kopi

Kemarin saya belajar dari sebuah kesalahan terbesar.
Seperti biasa, minggu pagi adalah waktu untuk jogging. Setelah jogging, saya baca koran dan minum kopi.
Apa yang terjadi? Setelah itu batuk-batuk hingga hari ini.
Yap. Ini kesalahan terbesar. Saya tak akan ulangi kesalahan ini lagi.

Posted by: aripmuttaqien | October 7, 2012

Lari Terus, Terus Lari

Hari ini saya ikut lomba lari 10K. Sebenarnya ini bukan pertamakali saya ikut lomba lari 10K. Bulan Mei 2012, saya ikut Jakarta International 10K yang merupakan kegiatan tahunan dalam rangka ulang tahun Jakarta.

Kali ini organizer adalah Bank Mandiri dalam rangka ulang tahun ke-14. Lomba ini dibagi jadi dua kategori, yaitu 5K dan 10K. Informasi lebih lengkap bisa diakses di http://www.mandiri4nation.com.

Start lomba adalah lapangan parkir JCC. Untuk kategori 5K, peserta berlari keluar menuju Sudirman, berlari ke arah Semanggi, kemudian berputar di Semanggi menuju arah Blok M. Peserta berputar du Bundaran Senayan, menyusuri Sudirman hingga belok ke arah JCC.

Untuk kategori 10K, peserta berlari keluar menuju Sudirman, berlari ke arah Semanggi, berlari terus hingga Dukuh Atas, berputar ke arah Semanggi, terus hingga berputar di Bundaran Senayan, menyusuri Sudiman hingga belok ke arah JCC.

Tercatat lebih dari 1.000 peserta terdaftar sebagai pelari, baik kategori 5K dan 10K. Mulai dari atlet yang serius, peserta yang sekedar berolahraga, hingga peserta yang sekedar cari hiburan. Saya mengkategorikan peserta yang sekedar berolahraga. Hanya satu target: lari non stop 10K hingga finish.

Start lari adalah jam 5.55 dari parkiran JCC. Ada ratusan pelari bersiap-siap menuntaskan 10K. Saya hanya berlari santai. Banyak peserta didepan saya. Sepanjang 1 km awal, saya lihat ada peserta terlambat datang. Datang terlambat itu sangat tak menyenangkan. Kesenangan utama adalah mulai berlari bersama-sama karena akan memberi semangat.

Sepanjang 3 km awal, perut sebelah kanan terasa kram. Kram perut ini sangat menyiksa. Namun saya tetap berlari hingga kram perut mulai hilang pada kilometer ke-4.

Hari ini tak ada masalah dengan nafas. Jika sering berlari, nafas seharusnya tak jadi masalah. Ngos-ngosan itu disebabkan karena kurang latihan. Latihan minimal seminggu sekali akan membantu memperbaiki cara berlari. Setidaknya ngos-ngosan akan hilang karena berlatih mengatur kecepatan berlari.

Berlari di jalan Sudirman lebih menyenangkan karena kualitas jalan beraspal yang bagus. Wajar karena Sudirman adalah wilayah perkantoran. Kualitas jalan yang bagus tentu memudahkan pelari. Bandingkan dengan berlari di jalanan becek dan aspal rusak, tentu lebih merepotkan.

Sepanjang kanan dan kiri jalan terlihat gedung bertingkat. Hari Minggu pagi adalah hari bebas kendaraan bermotor, sering disingkat HBKB atau car free day. Sepanjang perjalanan, saya menemukan berbagai aktivitas. Bersepeda. Sepatu roda. Jalan kaki. Penjual makanan minuman. Dan sebagainya.

Masuk kilometer ke-5, saya menambah kecepatan berlari. Kali ini saya banyak menyalip pelari lain. Sebagian dari mereka berjalan setelah capek berlari. Ini berbeda jauh dengan prinsip saya: terus berlari, jangan pernah berhenti. Sekali berhenti lari, selanjutnya akan sulit berlari lagi. Jika agak capek, saya pilih berlari pelan. Pokoknya, jangan sekalipun berhenti berlari.

Berlari jarak jauh tentu perlu stamina. Lari 10K harus mengatur bagaimana stamina tetap bertahan hingga akhir pertandingan. Tak usah berlari terlalu cepat diawal. Simpan energi. Keluarkan bertahap. Lebih baik lari pelan dan stabil daripada lari cepat namun tak stabil. Kestabilan akan menjaga stamina bertahan hingga akhir pertandingan.

Selama perjalanan 10K, ada tiga titik pemberian air minum. Jangan gegabah dengan langsung minum sebanyak-banyaknya. Tubuh memang dehidrasi. Tentu perlu air minum. Namun langsung minum banyak tentu bukan cara tepat. Apalagi dalam kondisi berlari. Dari pengalaman saya, kebutuhan minum baru terasa pada kilometer ke-5. Saya biasanya minum setelah kilometer ke-5. Dan minum sedikit demi sedikit. Minum cukup 50 – 100 cc sekali minum. Hingga 10K, saya hanya minum sekitar 200 – 250 cc. Tak banyak. Sisanya saya gunakan untuk membasahi tubuh.

Mulai kilometer ke-8, saya menambah jangkauan kaki. Langkah kaki lebih panjang. Banyak pelari yang saya dahului. Dan ini menambah semangat. Urusan berlari tak cuma niat dan stamina. Mental sangat berpengaruh. Kekuatan mental mendorong pelari selesaikan hingga finish.

Sepanjang perjalanan, saya mendengarkan musik untuk membunuh kebosanan. Cara ini sangat efektif. Berlari itu sendiri. Tak ada teman bicara. Tak mungkin mengajak teman bicara karena akan mengganggu lari. Tidak berbicara adalah metode yang tepat untuk menghemat energi. Kecuali jika berniat berlari sambil ngobrol, tentu berbeda.

Kecepatan berlari makin bertambah pada 500 meter terakhir menjelang finish. Pada 100 meter terakhir saya menambah kecepatan dan jangkauan kaki. Hasilnya? Saya finish dengan waktu 1 jam 15 menit. Ini hasil yang cukup bagus untuk saya. Setidaknya lebih baik daripada catatan waktu 5 bulan lalu: 1 jam 35 menit!

Akhirnya, apa yang dapat disimpulkan? Ada beberapa filosofi berlari.

Berlari itu hanya masalah niat, stamina, dan mental. Jika tiga hal itu bisa terpenuhi, maka kita akan mencapai finish.

Tetap optimis. Optimisme ini mendorong pelari selesaikan hingga finish. Jika belum mencoba sudah pesimis, itu adalah awal dari kekalahan. Jangan sekalipun berpikir “tidak bisa” karena pikiran itu akan menghentikan proses berlari.

Berlari untuk diri sendiri. Saya adalah orang yang berpikir demikian. Saya bukan atlet lari. Saya berlari karena ingin: sehat dan panjang umur. Kesehatan itu untuk diri sendiri. Karena itu saya tidak berlari untuk mengalahkan pelari lain. Musuh utama adalah diri sendiri. Jika bisa kalahkan diri sendiri, maka itu adalah kemenangan.

Pecahkan rekor diri sendiri. Perbaiki terus rekor itu. Saya memilih tak membandingkan rekor saya dengan orang lain. Tiap orang punya kondisi masing-masing. Tak usah capek-capek saling membandingkan. Tiap orang punya kesuksesan masing-masing. Hanya diri sendiri yang bisa mengukur kesuksesan masing-masing. Hasil akhir tentu membuat kaget: ternyata saya bisa finish. Saya bukan pelari. Tak banyak waktu untuk berlatih. Namun bisa finish. Jika yakin, maka keyakinan itu akan mempermudah.

Berlari jarak jauh seperti menjalani kehidupan. Jalannya panjang. Tak perlu habiskan energi diawal perjalanan. Konsistensi justru lebih penting. Terus berlari. Jika harus berjalan, lakukan. Jika harus merangkak, lakukan. Yang penting dilarang menyerah dan berhenti. Tidak boleh putus asa. Pasti bisa mencapai tujuan.

Bagi saya, lari jarak jauh memberi dampak positif. Kesehatan dan optimisme. Saya tetap sehat. Tidak mudah sakit. Tidak mudah capek. Saya jadi lebih optimis. Semua pasti bisa. Jika ada keinginan pasti ada jalan keluar.

Target selanjutnya adalah 20K. Jika ada waktu, saya ingin berlari dari Depok ke kantor. Jarak sekitar 20an kilometer. Target tahun 2013 adalah ikut lari marathon 42K. Tentu itu bukan target yang mudah dicapai oleh pelari amatir seperti saya. Namun itu tak mustahil dicapai. Perlu latihan, latihan, dan latihan.

Depok, 7 September 2012.
Ditulis dengan handphone LG Optimus Black.

Posted by: aripmuttaqien | October 3, 2012

The Act of Killing

From IMDB:

http://www.imdb.com/title/tt2375605/synopsis

Anwar Congo and his friends have been dancing their way through musical numbers, twisting arms in film noir gangster scenes, and galloping across prairies as yodelling cowboys. Their foray into filmmaking is being celebrated in the media and debated on television, because Anwar Congo and his friends are mass murderers.

MEDAN, INDONESIA When the government of Indonesia was overthrown by the military in 1965, Anwar and his friends were promoted from small-time gangsters who sold movie theatre tickets on the black market to death squad leaders. They helped the army kill more than one million alleged communists, ethnic Chinese, and intellectuals in less than a year. As the executioner for the most notorious death squad in his city, Anwar himself killed hundreds of people with his own hands. Today, Anwar is revered as a founding father of a right-wing paramilitary organization that grew out of the death squads. The organization is so powerful that its leaders include government ministers, and they are happy to boast about everything from corruption and election rigging to acts of genocide.

THE ACT OF KILLING is about killers who have won, and the sort of society they have built. Unlike ageing Nazis or Rwandan genocidaires, Anwar and his friends have not been forced by history to admit they participated in crimes against humanity. Instead, they have written their own triumphant history, becoming role models for millions of young paramilitaries. THE ACT OF KILLING is a journey into the memories and imaginations of the perpetrators, offering insight into the minds of mass killers. And THE ACT OF KILLING is a nightmarish vision of a frighteningly banal culture of impunity in which killers can joke about crimes against humanity on television chat shows, and celebrate moral disaster with the ease and grace of a soft shoe dance number.

A LOVE OF CINEMA In their youth, Anwar and his friends spent their lives at the movies, for they were “movie theatre gangsters”: they controlled a black market in tickets, while using the cinema as a base of operations for more serious crimes. In 1965, the army recruited them to form death squads because they had a proven capacity for violence, and they hated the communists for boycotting American films – the most popular (and profitable) in the cinemas. Anwar and his friends were devoted fans of James Dean, John Wayne, and Victor Mature. They explicitly fashioned themselves and their methods of murder after their Hollywood idols. And coming out of the midnight show, they felt “just like gangsters who stepped off the screen”. In this heady mood, they strolled across the boulevard to their office and killed their nightly quota of prisoners. Borrowing his technique from a mafia movie, Anwar preferred to strangle his victims with wire.

In THE ACT OF KILLING, Anwar and his friends agree to tell the filmmakers the story of the killings. But their idea of being in a movie is not to provide testimony for a documentary: they want to star in the kind of films they most love from their days scalping tickets at the cinemas. The filmmakers seize this opportunity to expose how a regime that was founded on crimes against humanity, yet has never been held accountable, would project itself into history.

And so the filmmakers challenge Anwar and his friends to develop fiction scenes about their experience of the killings, adapted to their favorite film genres – gangster, western, musical. They write the scripts. They play themselves. And they play their victims. Their fiction filmmaking process provides the film’s dramatic arc, and their film sets become safe spaces to challenge them about what they did. Some of Anwar’s friends realize that the killings were wrong. Others worry about the consequence of the story on their public image. Younger members of the paramilitary movement argue that they should boast about the horror of the massacres, because its terrifying and threatening force is the basis of their power today. As opinions diverge, the atmosphere on set grows tense. The edifice of genocide as a “patriotic struggle”, with Anwar and his friends as its heroes, begins to sway and crack.

Most dramatically, the filmmaking process catalyzes an unexpected emotional journey for Anwar, from arrogance to regret as he confronts, for the first time in his life, the full terror of what he’s done. As Anwar’s fragile conscience is threatened by the pressure to remain a hero, THE ACT OF KILLING presents a gripping conflict between moral imagination and moral catastrophe.

NOTE OF INTENTION

By director Joshua Oppenheimer

The Act of Killing reveals why violence we hope would be unimaginable is not only imagined, but also routinely performed. It is an effort to understand the moral vacuum that makes it possible for perpetrators of genocide to be celebrated on public television with cheers and smiles. It is a call to reexamine easy reassurances that we are the good guys fighting the bad guys, just because we say so.

Some viewers may desire resolution by the end of the film, a successful struggle for justice that results in changes in the balance of power, human rights tribunals, reparations, and official apologies. The film alone cannot create these changes, but this desire has been our inspiration as well, as we seek to shed light on the darkest chapters of both the local and global human story, and to express the real costs of blindness, expedience, and an inability to control greed and the hunger for power in an increasingly unified world society. This is not a story about Indonesia. This is a story about us all.

Posted by: aripmuttaqien | September 30, 2012

Jalan Terus, Terus Jalan

Judul diatas aku kutip dari seorang teman.
Thanks. Inspired from this.

Keberhasilan dan kegagalan ada dalam diri manusia.
Jatuh itu adalah fakta. Namun bangkit itu pilihan. Semua kembali pada tiap orang. Apakah mau menyerah dengan keadaan. Atau bangkit atasi masalah.

Jalan terus, terus jalan.
Tiap kejadian pasti ada hikmah.
Hari ini mungkin manusia akan sulit temukan hikmah itu. Kelak, dimasa depan, semua pasti terungkap.
Dan jalan itu terbentang didepan. Walaupun masih samar karena kabut. Di belakang, jalan lebih jelas. Di belakang, jalan sudah terbuka lebar. Hanya ada tiga pilihan.
Pertama, mundur ke belakang. Pilihan ini lebih mudah. Lebih jelas. Tidak berisiko.
Kedua, diam ditempat. Pilihan ini tak ada risiko. Namun tak ada kemajuan.
Ketiga, jalan kedepan. Pilihan ini penuh risiko. Menembus kabut. Tentu harus ada cahaya penerang. Manusia sendiri bisa memilih untuk nyalakan cahaya itu. Inilah peran manusia. Berusaha dan terus berusaha. Tuhan juga bisa nyalakan cahaya matahari-Nya. Dan Tuhan tetap sayang dengan makhluk-Nya. Matahari belum pernah diberhentikan menyinari bumi.

Jalan terus, terus jalan.
Aku harus memilih jalan terus. Karena inilah yang membuat manusia “terus hidup”.
Bismillah.

Jalan terus, terus jalan.

Posted by: aripmuttaqien | September 28, 2012

Fokus atau Multitasking ?

Hari ini, seorang teman saya mengirim email. Dia bercerita bahwa hari ini adalah hari terakhir bekerja di kantornya.

Dia putuskan mengundurkan diri. Mengapa? Alasan dia sederhana: ingin fokus persiapkan aplikasi sekolah di Amerika. Universitas di Amerika dikenal ketat terapkan syarat-syarat, seperti TOEFL, GRE, dan GMAT. Tes-tes itu tak seperti goreng telur: 5 menit jadi. Butuh perjuangan keras agar dapat hasil maksimal.

Dari pengalaman saya ikut tes GRE sebanyak dua kali (Maret 2008 dan Agustus 2011), butuh persiapan 2 – 3 bulan. Kunci utama: konsisten belajar. Saya masih ingat ketika harus mengurangi waktu tidur demi belajar. Waktu tidur berkurang 1 – 2 jam tiap malam dan pagi hari demi persiapkan tes GRE. Pagi dini hari sebelum ke kantor saya relakan untuk belajar mandiri. Bahan untuk belajar saya unduh dari internet. Saya pilih belajar mandiri karena keterbatasan dana.🙂

Fokus.

Sederhana saja.

Fokus berarti mengarahkan energi ke satu tujuan. Fokus memperbesar peluang untuk berhasil.

Saya bisa mengerti mengapa teman saya akhirnya pilih mengundurkan diri dari pekerjaan demi fokus persiapkan aplikasi.

Fokus.

Saya sendiri pernah melakukan hal itu.

Empat tahun lalu saya putuskan tidak memperpanjang kontrak perusahaan tempat saya bekerja. Saya putuskan untuk fokus aplikasi kuliah. Walau dengan konsekuensi pendapatan berkurang drastis. Tak ada pendapatan tetap. Memang saya masih mengerjakan beberapa proyek untuk menyambung hidup. Saya juga masih menyempatkan diri mengikuti kursus bahasa Prancis di Universitas Indonesia.

Saya lakukan semua itu bahkan belum ada kepastian untuk berangkat. Namun yakin saja.

Seperti dalam The Alchemist, “When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it“.

Apakah selalu bisa fokus?

Tidak selalu.

Berbicara kenyataan, fokus akan punya konsekuensi. Paling mudah adalah konsekuensi finansial. Efek positif adalah energi terbesar bisa diarahkan untuk mencapai satu tujuan.

Bagi sebagian orang, justru sulit untuk fokus. Atau kondisi tidak memungkinkan untuk fokus.

Lawan kata fokus adalah “multitasking”.

Multitasking berarti mengerjakan banyak hal dalam satu waktu.

Ibarat komputer, tentu butuh kemampuan prosesor tingkat tinggi untuk jalankan berbagai aplikasi dalam satu waktu.

Untuk menjadi seorang multitasking, perlu cerdik, terutama mengatur waktu. Tingkat kepentingan dan deadline. Lebih kompleks.

Dengan kondisi saya hari ini, sangat sulit untuk fokus. Pada akhirnya saya dituntut untuk menjadi seorang multitasking. Entah terpaksa atau karena menikmati sebagai seorang multitasking.

Bekerja pada lebih dari satu tempat, kursus bahasa, aplikasi sekolah, aktivitas komunitas, dan lain-lain.

Namun pada suatu waktu memang harus fokus dan tak boleh diganggu. Pada suatu waktu harus menjadi seorang multitasking.

Hal paling sulit dalam multitasking adalah mengubah “frekuensi kenyamanan”. Manusia bukan robot atau komputer. Berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tentu butuh adaptasi lebih lama. Otak manusia pasti punya keterbatasan ber-multitasking. Otak manusia tak bisa fokus ketika ber-multitasking.

Dan hari ini saya melakukan hal itu. Lebih disebabkan: kondisi😀

Posted by: aripmuttaqien | September 27, 2012

Pagi itu Sangat Berharga

Bangun pagi, jam 2 atau jam 3 dinihari adalah waktu sangat berharga.

Lakukan aktivitas yang paling penting dipagi hari. Pagi hari sangat fresh untuk melakukan sesuatu terbaik. Energi yang masih fresh akan menelurkan hasil maksimal.

Prinsip: Jangan pernah lakukan pekerjaan kantor pada waktu ini.😀

Prinsip: Lakukan sesuatu yang sangat berharga. Misalnya, menulis esai beasiswa bagi yang memang mengejar beasiswa. Menulis novel bagi seorang penulis. Atau sesuatu yang jadi prioritas.

Dan pagi ini begitu berharga.

 

Posted by: aripmuttaqien | September 27, 2012

Sad Violin

Posted by: aripmuttaqien | September 26, 2012

Hidup Meloncat: Kadang atau Sering

Pertanyaan penting dari seorang teman: “Apa rencana kedepan?”
Aku menjawab ringan: “Meloncat. Karena hidup memang kadang harus meloncat! Meloncat diantara ketidakjelasan.”
It’s me. I am an unpredictable person.

Posted by: aripmuttaqien | September 26, 2012

Don’t Expect Too Much

Don’t expect too much. That’s important.

Posted by: aripmuttaqien | September 25, 2012

Warsaw: Seseorang yang (Tiba-Tiba) Hilang

Warszawa Centralna.

Lebih tepatnya “Warsaw Central Railway Station”.

Stasiun kereta tak pernah mati. Dan memang hampir disemua kota besar, stasiun kereta selalu hidup.

Stasiun kereta api selalu jadi persinggahan. Murah dan mudah dituju. Tak sulit temukan backpacker tidur di stasiun kereta.

Pagi ini, sebuah kereta tiba dari Wien setelah menempuh perjalanan 8 jam.

Kereta ini milik Österreichische Bundesbahnen.

Österreichische Bundesbahnen disingkat OBB. OBB adalah perusahaan kereta miliki pemerintah Austria. Di Indonesia bisa disebut PT. KAI. OBB menjangkau lebih dari 5.600 kilometer, membentang diseluruh Austria hingga negara-negara tetangga.

Swiss, Italia, Jerman, Ceko, Slovakia, dan Polandia. OBB menjangkau negara-negara tersebut.

Tak ada yang istimewa dari kereta ini. OBB hadir dengan kereta cepat. Cukup sekitar 8 jam dari Wien ke Warsaw, melewati tiga negara: Austria, Ceko, dan Polandia. Berturut-turut, negara dari barat ke timur. Berturut-turut, negara sejahtera ke negara dengan kesejahteraan lebih rendah. Berturut-turut, negara dengan keteraturan tinggi ke negara kurang teratur. Berturut-turut, negara dengan tingkat kriminalitas rendah, ke negara dengan kriminalitas lebih tinggi.

Aku sendiri duduk dalam kompartemen untuk enam orang. Tiga tempat duduk saling berhadapan. Namun hanya empat orang penumpang mengisi kompartemen ini.

Satu orang Indonesia. Dia adalah aku sendiri.

Dan tiga orang yang berbicara dengan bahasa yang tak aku kenal. Tampaknya bahasa Eropa Timur. Terlihat dari aksen Rusia. Semalaman mereka berbicara tanpa benar-benar tidur!

Aku sendiri mencoba tidur.

Lebih tepat dikatakan tidur ayam. Setengah tidur. Setengah tidak tidur. Ketika terbangun tengah malam, samar-samar terdengar tiga orang tertawa-tawa.

Mungkin dalam satu obrolan, mereka membicarakan seorang turis asing bodoh. Turis asing yang tak bisa bahasa Jerman. Tak bisa bahasa Polski. Bahkan tak bisa bahasa Rusia!

Aku hanya berbicara sedikit dengan mereka. Karena memang sangat ngantuk. Untunglah mereka bisa sedikit-sedikit bahasa Inggris. Ketika petugas kontrol tiket datang, terjadi sedikit masalah. Petugas tidak bisa bahasa Inggris. Aku terus berbicara dengan bahasa Inggris. Petugas tetap bicara bahasa Jerman. Komunikasi dua arah yang sangat tidak efektif! Apa yang disampaikan tak ada yang diterima dengan baik. Ibarat bicara A, namun terdengar B.

Salah satu penumpang dalam satu kompartemen akhirnya membantu menterjemahkan. Dia bisa bahasa Inggris dengan lancar. Dia mengerti apa yang aku katakan. Selesailah masalah ini. Petugas kontrol tiket pergi.

Bahasa Inggris tetap dianggap sebagai second language di daratan Eropa. Ini Eropa daratan. Eropa daratan tak akan suka dengan bahasa Inggris. Sejak kapan Inggris lakukan ekspansi ke daratan Eropa. Selama berabad-abad Inggris lakukan ekspansi laut. Atlantik ditaklukkan. Koloni-koloni tumbuh di benua Amerika.

Bahkan hingga hari ini Uni Eropa belum punya satu bahasa resmi. Uni Eropa memilih gunakan berbagai bahasa resmi. Tak mungkin negara-negara Eropa daratan terima bahasa Inggris dengan hati lapang.

OBB telah benar-benar berhenti.

Aku berjalan keluar dari gerbong kereta. Berjalan menyusuri peron menuju eskalator. Sebuah tas ransel menggantung dipundak. Tas ransel ini cukup berat. Mungkin sekitar 15 kilogram. Tas ransel compang-camping. Lebih tepat disebut sebagai tas untuk gelandangan. Dan memang aku adalah gelandangan untuk saat ini.

Rumus sederhana: ikuti orang-orang lain berjalan.

Aku mengikuti orang-orang naik eskalator. Cukup ramai. Banyak orang baru turun dari kereta.

Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Masih sangat pagi untuk ukuran orang Eropa. Namun stasiun sudah ramai dengan beragam aktivitas.

Papan informasi adalah tujuan pertama.

Tak sulit temukan papan informasi. Informasi bilingual memudahkan turis yang jelas tak bisa bahasa Polski.

Dengan tenang aku membaca tulisan di papan informasi.

Warsaw hanya punya satu jalur subway.

Metro warszawskie.

Dalam bahasa Inggris: The Warsaw Metro

Subway membentang 23 kilometer dari utara ke selatan dengan 21 stasiun.

Tiba-tiba terdengar suara seorang pria, “Hello, where are you come from?”

Aksen Amerika.

Aku menoleh ke asal suara. Seorang pria berumur 40an tahun. Seperti Joseph Stiglitz. Berewokan. Sebagian rambut sudah memutih. Perawakan sedang. Tidak terlalu besar. Tidak terlalu kecil. Tidak terlalu tinggi. Tidak terlalu pendek. Dia memakai baju lengan panjang.

I am from Indonesia,” aku menjawab ringan.

Ooohhh… Indonesia. I know.” kata pria itu. “And btw, is it your first time in Warsaw?” lanjutnya.

Yes sir. From Vienna last night,” jawabku.

Aku kembali membaca papan informasi.

Pria itu kembali berbicara, “I think you should explore this city. Actually, Warsaw is not greater than Vienna, Munich, Berlin, or Paris. But, Warsaw is nice city. If you need discotheque, you can find in the central city.”

Aku menyimak. “Ok. Thank you” aku merespon ringan.

Btw, what about Krakow?” aku bertanya.

Hmmm…Krakow is very beautiful. But you can find historical site. Krakow is the second largest city in Poland. It is also the oldest city in Poland. You can find Krakow as a concentration camp city. Hitler government conquered this city. And you know what happen? Too many Jewish people died. You should go there.”

Menarik. Aku memang ingin pergi ke Krakow. Seorang teman yang sudah pernah pergi ke Polandia sangat menyarankan agar aku pergi ke Krakow. Krakow adalah kota indah. Begitu dia menceritakan.

Interesting !” jawabku singkat.

How I can go to Krakow?” tanyaku lagi.

You can buy ticket to Krakow. Everyday, there are two departs, I think. Btw, just go upstairs. Choose number # 3. The salesperson can speak English fluently. ” jawab pria itu.

Aku masih berdiri ditempat semula. Tak ada perpindahan. Hanya menggeser tas ransel yang terasa berat dipunggung.

Aku menoleh, mencari eskalator. Ya itu eskalator. Sebuah eskalator. Sekitar 50 meter disebelah kiri.

Thank you very much,” aku menoleh ke pria itu.

Namun pria itu sudah tak ada.

Lenyap.

Penasaran. Aku menoleh ke segala penjuru arah. Tak berhasil. Pria itu sudah lenyap bagai ditelan bumi.

Ya sudahlah. Sebaiknya aku segera naik eskalator.

Lima menit kemudian. Aku sudah berada didepan loket nomer 3. Sesuai dengan saran pria itu.

Lima menit kemudian. Transaksi sudah selesai. Tiket pergi pulang Warsaw – Krakow untuk besok hari sudah ada. Menyenangkan.

Aku berdiri sekitar 20 meter dari loket nomer 3. Memandangi tiket ditangan. Tiket ini berwarna putih. Disitu tertulis jam keberangkatan.

Baiklah. Besok aku akan pergi ke Krakow. Menikmati keindahan kota tertua di Polandia.

Aku hendak berjalan. Melangkah kedepan. Tiba-tiba terdengar suara seorang pria, “Hi sir, have you gotten your ticket?

Aku kenal dengan suara ini. Seperempat jam yang lalu kami asyik bercakap-cakap.

Spontan aku menoleh ke asal suara.

Yes, this is my ticket” kataku kepada pria berwajah mirip Joseph Stiglitz. Dia berdiri disebelahku sambil melihat tiket yang kutunjukkan padanya.

Good ! Enjoy your Krakow!” kata dia.

Thank you,” jawabku singkat. Aku kembali mengamati tiket ditangan.

Ketika aku menoleh ke sebelah, pria itu sudah menghilang. Tidak berbekas. Aku menoleh ke segala penjuru arah, tak ada lagi.

Entah, siapa pria itu.

Datang dan hilang.

Older Posts »

Categories