Posted by: aripmuttaqien | August 21, 2011

Iklan Kompas, Tulisan, dan Hutang yang Belum Terbayar

Maret 2005

Pagi ini tidak sengaja aku melihat iklan di Kompas. Sebuah iklan tiga kolom koran berjudul “Lomba Karya Tulis Kemiskinan LP3ES”. Selanjutnya tertulis hadiah 10 juta untuk juara pertama. Hadiah untuk seterusnya kalau tidak salah 7 juta dan 5 juta. Dan hadiah hiburan masing-masing 1 juta untuk yang berhasil masuk 10 besar.

Aku membaca iklan Kompas dengan ringan saja. Seperti membaca iklan yang lewat. Dan koran itu aku tinggalkan begitu saja.

 

April 2005

Aku sedang mampir ke Asrama Universitas Indonesia karena ingin berkunjung ke tempat teman. Saat ini aku memang sudah tidak tinggal di asrama, namun aku masih sering mampir ke asrama. Seperti biasa, aku ke asrama dengan  naik bus kampus. Mahasiswa sering menyebut dengan istilah bus kuning.

Bus kampus memasuki area depan asrama UI. Aku turun dari bus kampus. Ketika baru berjalan sekitar 10 langkah menuju asrama, aku mendengar sekilas percakapan antara dua orang mahasiswa. Dua orang mahasiswa itu berjalan berlawanan arah denganku. Mereka hendak menuju bus kampus.

“Hai, kamu sudah baca pengumuman tentang Lomba Karya Tulis LP3ES?” tanya seorang mahasiswa kepada temannya. “Belum, kenapa?” jawab rekannya. “Ini ada lomba karya tulis, lumayan, hadiahnya 10 juta kalau menang. Perlu dicoba ini, tadi barusan cari data di internet,” jawabnya.

Percakapan yang hanya sebentar antara dua orang mahasiswa telah membukakan pikiranku.

Mengapa aku tidak mencoba saja? Toh, kalau kalah aku mendapat pengalaman. Tidak ada salahnya mencoba. Kalau menang, lumayan bisa dapat hadiah. Tapi saat ini aku tidak berpikir menang atau kalah.

Akhirnya, aku pergi ke warnet di asrama untuk mencari data pendukung tulisan. Di asrama memang ada dua warnet. Cukup lama, sekitar dua hingga tiga jam. Berbekal flash disk 128 MB yang sudah hampir rusak, semua data aku pindahkan dalam device. Disini aku mendapat banyak data tambahan dan contoh tulisan.

Saat ini aku belum pernah menulis serius. Memang ada tulisan yang pernah dimuat di koran, tapi itu jauh dari kesan tulisan serius karena lebih bersifat tulisan opini.

 

Mei 2005

Aku sedang mengetik tulisan di kamar teman. Komputer yang aku pakai adalah komputer salah satu rekan satu kontrakan. Tiba-tiba seorang temanku masuk ke kamar. Dia melihat apa yang aku lakukan.

“Sedang ngapain?” tanya dia singkat. “Lagi bikin tulisan, ada lomba karya tulis, mau coba ngirim, siapa tahu dapat rezeki,” jawabku singkat sambil menunjukkan iklan di Kompas yang aku gunting.

Dia melihat sejenak. “Oke, ntar kalau menang, traktir ya!” katanya mantap.

Tanpa berpikir aku segera menjawab, “Oke, gampang deh, ntar di traktir makan sepuasnya.” Aku memang tidak berpikir untuk menang karena baru pertama mengirimkan tulisan. “Oke, semangat bikin tulisan, ntar gue tunggu traktiran,” jawabnya. Aku pun meneruskan proses penulisan.

Sebagai anak dari Fakultas Teknik, kami tidak dibekali kemampuan menulis. Tidak seperti mahasiswa FISIP yang sering mendapat tugas paper, mahasiswa teknik jarang sekali mendapat tugas paper. Dan tentu saja tugas ke arah kuantitatif, bukan verbal yang membutuhkan banyak kemampuan berbahasa dan menulis.

Apalagi tema tulisan adalah tentang kemiskinan, yang lebih bersifat sosial daripada teknik. Ini kan bukan pekerjaan mahasiswa teknik? Ini yang pertama kali melintas di otakku. Tapi, tidak ada salahnya untuk dicoba.

Inilah yang membuatku kesulitan dalam pertama kali menulis. Apa yang aku lakukan? Pertama, aku membuat struktur. Structurized, aku membuat kerangka tulisan untuk memudahkan penulisan. Selanjutnya, aku menulis untuk “menjahit” kerangka agar tersambung. Disini aku menambahkan data pendukung, seperti jumlah penduduk miskin, persentase penduduk miskin, peta kemiskinan, dan sebagainya.

Diujung tulisan, aku memberikan solusi general. Karena aku tidak terlalu menguasai bidang yang aku tulis, jadi wajar jika solusi yang aku berikan bersifat general.

Dan yang pasti, aku terus saja menulis tanpa peduli dengan banyak aturan. Terus menulis dan terus menulis. Masalah hasil dilihat saja nanti.

Sekitar akhir Mei, tulisan sudah selesai. Batas maksimal adalah 25 halaman. Dan aku membutuhkan 25 halaman untuk menuangkan ide. Dan yang lebih parah, tulisan ini harus di fotokopi sebanyak 10 eksemplar dan dikirim ke kantor LP3ES di daerah Slipi. Cukup berat saat aku timbang. Aku berpikir berapa ongkos yang harus aku keluarkan jika dikirimkan via pos. Maklum, mahasiswa harus memperhitungkan dompet.

Setelah berpikir, akhirnya aku putuskan untuk mengirimkan secara langsung. Semua tulisan dimasukkan dalam amplop coklat, lalu aku naik bus jurusan Depok Grogol (P54) dengan ongkos Rp 3000.

Tiba di kantor LP3ES, setelah bertanya pada satpam, akhirnya aku memasuki ruangan khusus. Ruangan ini mungkin dipakai untuk mengurusi lomba karya tulis. Begitu pikirku. Disana aku diterima oleh seorang bapak berusia sekitar 50an tahun. Ketika aku masuk ke ruangannya, dia terlihat asyik menikmati rokok.

Aku masuk dan menyapa, “Selamat sore, saya mau mengirimkan tulisan untuk lomba karya tulis LP3ES,”

Bapak itu menjawab, “Ohya, silakan masuk. Silakan duduk. Dari mana?” Akupun duduk dan sedikit bercerita kalau aku adalah mahasiswa UI yang tinggal di Depok. Bapak itu mengambil gunting dan menggunting amplop coklat, lalu mengeluarkan berkas tulisan.

“Jadi saya terima tulisan yang saudara kirimkan,” kata bapak itu.

“Iya, terima kasih Pak. Karena mendekati deadline, saya putuskan untuk mengirim langsung ke kantor LP3ES. Soalnya kalau dikirim via pos, bisa mahal di ongkos,” jawabku.

“Iya, saudara benar. Kalau dihitung harus mengirim 10 eksemplar, datang kesini langsung bisa sangat mengurangi ongkos,” jawab bapak itu.

Setelah urusan selesai, aku berpamitan keluar. Aku pulang ke Depok dengan naik bus P54.

 

Agustus 2005

Aku sedang naik bus kampus. Ketika bus kampus lewat didepan Fakultas Hukum, tiba-tiba handphone berbunyi.

“Halo, kami dari LP3ES ingin mengabarkan bahwa tulisan Anda masuk dalam 10 besar terbaik. Kami mengundang Anda untuk presentasi didepan tim juri,” kata seorang laki-laki dengan lancar.

“Ohya, dimana dan kapan presentasi?” aku masih setengah tidak percaya dengan kabar yang aku dengar.

“Tempat presentasi di daerah Slipi. Kami akan mengirimkan undangan.” Jawab laki-laki tersebut.

Antara setengah percaya atau tidak percaya, aku masih berpikir tentang kabar yang baru saja aku dengar. Alhamdulillah, setidaknya aku mendapatkan 1 juta rupiah. Jumlah yang terbilang besar untuk ukuran mahasiswa saat ini. Lumayan, uang itu akan sangat membantu dompet selama beberapa bulan kedepan.

Saat ini aku tidak berpikir untuk mentargetkan diri sebagai pemenang. Sudah masuk 10 besar saja aku sangat bersyukur.

 

Awal September 2005

Aku sedang berada di sebuah hotel di daerah Slipi. Panitia LP3ES mengundang seluruh penulis yang masuk babak final. Tulisan yang masuk ke babak final adalah 20 tulisan, yaitu 10 dari kategori mahasiswa dan 10 dari kategori umum. Tentu saja aku masuk dari kategori mahasiswa. Mahasiswa yang lain berasal dari FISIP UI, Univ Jember, Univ Negeri Yogyakarta, dan lain-lain.

Ini adalah hari ketiga kami berada di hotel. Hari pertama, kami tiba malam hari untuk check in di hotel. Hari kedua adalah presentasi untuk kategori umum. Hari ketiga adalah presentasi untuk kategori mahasiswa.

Ohya, tempat presentasi bukan di hotel, namun di kantor Kompas di Palmerah. Hari kedua, aku bangun terlambat sehingga tidak sempat ikut rombongan berangkat bersama-sama ke kantor Kompas. Akhirnya aku berangkat ke kantor Kompas dengan angkot. Dan konyol, aku sempat nyasar. Bukan Palmerah yang aku tuju, tapi aku malah ke arah Kebayoran Lama. Akhirnya aku harus kembali ke arah Slipi. Setelah nyasar selama kurang lebih setengah jam, akhirnya aku bisa  menemukan kantor Kompas, yang ternyata tidak jauh dari hotel tempat kami menginap. Memang cukup konyol untuk orang yang tidak tahu jalan.

Untung saja ini adalah hari kedua. Dan aku harus presentasi di hari ketiga. Jadi efek keterlambatan ini sebenarnya tidak berpengaruh pada presentasiku. Hari kedua, aku hanya melihat 10 orang kategori umum presentasi didepan. Semua membawa konsep tulisan dengan gaya masing-masing. Dan aku belajar dari hari kedua tentang bagaimana mereka presentasi dan bagaimana dewan juri melakukan penilaian.

Hari ketiga, saatnya aku presentasi. Alhamdulillah aku berhasil presentasi dengan lancar selama 20 menit (menurutku J). Ketika masuk babak tanya jawab dengan dewan juri, aku bisa menjawab dengan tenang. Bahkan ada seorang dewan juri yang mendiskusikan buku John Perkins, yang berjudul Economic Hitman. Buku ini cukup ngetrend pada saat ini. Tanya jawab berlangsung sekitar 15 menit.

Di akhir acara prsentasi hari ketiga, dewan juri memberikan beberapa catatan secara umum tentang seluruh tulisan peserta. Pemenang akan diumumkan akhir September di harian Kompas. Begitu kata mereka. Aku sendiri tidak terlalu yakin untuk bisa menjadi pememang pertama. Jika melihat seluruh presentasi, aku perkirakan bisa masuk dalam tiga besar. Kalau memang masuk ke tiga besar, setidaknya aku bisa mendapat tambahan hadiah. Itu saja pikiranku.

Dari acara ini, kami saling berkenalan antara peserta. Kami bertukar nomer handphone dan alamat email. Setidaknya aku mendapat teman-teman baru dari berbagai daerah.

 

Akhir September 2005

Pagi ini aku mendapat SMS dari seorang rekan yang aku temui di babak final lomba karya tulis. Dia tinggal di Bandung dan menulis pesan singkat, “Arip, selamat atas juara pertama lomba LP3ES”

Dug…

Aku masih tidak percaya membaca SMS yang baru masuk. Kupikir orang ini bercanda, aku malah membalas SMS, “Dimana info tsb? Saya belum baca koran hari ini.”

Tak berapa lama, ada SMS masuk “Coba buka Kompas halaman 10. Disitu ada iklan LP3ES”.

15 menit kemudian aku sudah memegang Kompas. Dan aku melihat dengan mata kepala sendiri:

Lomba Karya Tulis Kemiskinan

Yayasan Damandiri dan LP3ES

Juara Pertama Kategori Mahasiswa: Arip Muttaqien.

Judul tulisan “Paradigma Baru Pemberantasan Kemiskinan: Rekonstruksi Arah Pembangunan Menuju Masyarakat yang Berkeadilan, Terbebaskan, dan Demokratis”

 

Alhamdulillah, aku bersyukur atas rezeki yang tidak terduga ini. Tak berapa lama, aku sudah berada di warung telepon (wartel) untuk memberi kabar bahagia.

 

21 Agustus 2011

Aku sedang berada didepan laptop dan menulis kisah yang terjadi 6 tahun lalu. Memang sebuah kisah kecil. Namun kisah ini berarti untuk diriku. Setelah peristiwa itu, aku jadi rajin menulis. Dan alhamdulillah, banyak penghargaan dari berbagai tulisan.

Setelah kejadian itu, kemampuan menulis meningkat dengan pesat karena aku selalu mencoba dan mencoba. Banyak sekali manfaat yang aku peroleh. Pertama, tentu saja kemampuan menulis bisa meningkat pesat. Efek lain, aku tidak pernah kesulitan jika mendapat tugas paper dan skripsiku adalah skripsi selesai paling cepat di angkatan kuliah. Kedua, menambah pundi-pundi tabungan. Menulis bisa memberikan pendapatan jika dilakukan dengan serius. Dan aku menikmati hal ini selama bertahun-tahun. Ketiga, menambah teman. Dari berbagai lomba tulisan, aku mendapat banyak kenalan dari berbagai universitas dan wilayah. Keempat, melatih daya analisis. Menulis bisa melatih untuk menganalisis dan menyusun kepingan-kepingan data berserakan.

Pertengahan tahun 2009 aku berangkat ke Prancis untuk kuliah dengan beasiswa dari Kementrian Luar Negeri Prancis. Kemampuan menulis mempermudah urusan mencari beasiswa. Semua beasiswa pasti mensyaratkan motivation letter, statetement of purpose, dan sejenisnya. Tentu agak sulit bagi yang tidak terbiasa menulis. Dengan kemampuan menulis yang meningkat pesat, alhamdulillah proses beasiswa bisa lebih lancar. Jika aku tidak menulis sejak tahun 2005, bisa jadi aku tidak akan berangkat ke Prancis.

Memang, sebuah peristiwa kecil baru akan terasa hikmah di masa depan. Terkadang kita barus sadar hikmah setelah sekian lama berlalu. Saat ini, sebuah peristiwa kecil mungkin akan dianggap sepele. Tapi tunggu dulu, peristiwa kecil ini bisa mengubah “arah perjalanan” hidup.

Menulis kisah masa lalu seperti menyusun kepingan mozaik yang berserakan. Memang menarik melakukan refleksi. Di masa depan, kisah reflektif bisa menjadi semangat untuk selalu berbuat yang terbaik.

Tentang lomba karya tulis LP3ES, aku masih berhutang untuk mentraktir seorang teman. Bahkan sudah berlalu enam tahun dan aku masih berhutang. Tapi aku masih ingat dengan hutang. Dan tentu saja akan membayar lunas hutang.

Tunggu, aku tak ingin membayar hutang di Jakarta. Suatu saat aku akan membayar lunas hutang dengan mentraktir di Paris, entah berapa tahun lagi ketika aku kembali lagi ke Eropa untuk studi lanjut. Aku berniat akan menyambutnya ketika dia berkunjung ke Eropa.

Tapi aku yakin. Dan aku selalu yakin. Bukankah semua dimulai dari keyakinan? Keyakinan dan optimisme akan memberi energi positif yang menuntun ke arah cita-cita. Semua berawal dari mimpi. Beranilah untuk bermimpi besar. Dan yang lebih penting, berani mewujudkan mimpi menjadi kenyataan.

Bismillah!

 

Depok, 21 Agustus 2011

 

 

 

 

 

 

 

 


Responses

  1. itu yg nanya dan minta ditraktir gw bukan sih rip? traktirrrr dooong… hahahaa

  2. @boy
    iya, itu lu, kita reuni di paris aja,
    global player, masak di jakarta lagi? hahaha

  3. waaah…. Kirain itu si awe atau royyan… jadi kangen masa kuliah dulu.

  4. Inspiratif sekali pengalaman hidup mas arip :)

  5. semoga
    sukses
    terus yach…..
    amiinnn..:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.