Pertanyaan diatas sederhana saja. Apakah Anda termasuk orang optimis atau pesimis? Sebuah quote menarik adalah “A pessimist sees the difficulty in every opportunity; an optimist sees the opportunity in every difficulty.” Quote ini berasal dari Winston Churchill.
Jika Anda termasuk sebagai orang optimis, beranilah bermimpi tinggi. Tak ada yang salah dengan mimpi. Tak ada yang melarang seseorang untuk bermimpi. Mari mengingat masa kecil. Ketika kecil, kita sering ditanya, “Apa cita-cita kamu?” Sebagian besar dari kita akan menjawab dengan lantang, “Dokter”. Atau “Pilot”. Ya, memang hanya beberapa profesi favorit bagi anak-anak.
Anak-anak memang optimis. Mereka berani menggantungkan cita-cita setinggi langit. Anak-anak punya imajinasi lebih besar daripada orang dewasa. Anak-anak bisa berpikir tanpa rintangan macam-macam, tanpa berpikir rasional seperti orang dewasa. Namun inilah keunikan anak-anak. Yang patut digarisbawahi adalah “berani bermimpi tinggi”.
Bagaimana dengan orang dewasa? Ketika aku menjadi lebih dewasa, memang lebih berpikir rasional. Aku sendiri merasakan menurunnya keberanian bermimpi “ala anak-anak”. Keberanian bermimpi tanpa mengenal rasa takut. Keberanian bermimpi tanpa takut batas. Keberanian bermimpi tanpa rasionalitas. Namun justru dari mimpi itulah memunculkan semangat untuk terus berjalan. Semangat untuk terus hidup. Dan semangat untuk terus menerjang menggapai langit.
Lambat laun aku makin menyadari perbedaan ini. Dan apa yang mesti dilakukan dengan kedewasaan. Tidak ada yang masalah bagi seseorang untuk bermimpi setinggi langit. Selanjutnya, yang paling penting adalah bagaimana merealisasikan mimpi. Mimpi yang hanya sekedar mimpi tanpa realisasi tentu jadi catatan angan-angan saja. Mimpi yang bisa direalisasikan jadi kenyataan tentu akan jadi kebanggaan.
Seorang yang lebih dewasa, sejatinya menggunakan rasionalitas untuk menyusun rencana-rencana untuk merealisasikan mimpi. Kedewasaan umur bukan berarti meniadakan imajinasi mimpi.
Selanjutnya, kunci penting adalah tetap optimis apapun yang terjadi. Kegagalan bukan alasan untuk meniadakan optimisme. Jika gagal, anggap saja kalau kita mesti berputar sebelum sampai ke tempat tujuan. Justru optimisme adalah “bahan bakar” penting yang membuat kita terus melaju. Optimisme bisa jadi semangat yang mendorong seseorang untuk terus melangkah.Apapun kesulitan yang menghadang, seorang yang optimis akan berusaha mencari kemudahan dari segala kesulitan.
Adapun seorang pesimis selalu membuat kondisi lingkungan jadi lebih menyebalkan. Alih-alih bersemangat, sifat pesimis justru membuat hidup tanpa energi dan melihat dari sisi yang buruk. Seorang pesimis selalu mencari dalih pembenaran dari kegagalan. Seorang pesimis selalu melihat kesulitan dari tiap peluang yang ada didepan mata.
Alhamdulillah, aku dilahirkan dari seorang ibu yang memiliki sifat optimis. Sifat optimis untuk mengantarkan anak-anaknya mendapatkan masa depan lebih baik. Barangkali sifat inilah yang menular kepadaku. Selalu optimis melihat masa depan. Bahkan ada yang pernah bilang kepadaku jika aku terlalu optimis. Well, apapun pendapat orang, prinsip yang aku pegang adalah “Hidup hanya sekali, lakukan yang terbaik yang bisa dilakukan”.



sungguh menarik sekali
bolgnya…:)
By: nuraeni on September 21, 2011
at 4:32 am