Note : Untuk posting di Facebook, silakan lihat http://www.facebook.com/note.php?note_id=330022222854
=======================================================================
Sebuah message datang ke Facebook rekan di Indonesia, aku jadi tergelitik untuk menjawab (saya meng-edit secara redaksional agar mudah dibaca dan menutup identitas) :
Apa anda masih tinggal di Prancis saat ini? Saya sudah hampir 3 bulan lebih mencari informasi tentang mahasiswa di Prancis. Alhamdulillah akhir nya saya bisa berteman dengan anda. Kemarin saya mencoba komunikasi dengan mahasiswa dari kota XXX lewat facebook. Mereka welcome tapi setelah mereka tau saya muslim mereka memaki saya habis habisan. Saya ingin belajar disana namun saya sedikit ragu dengan jilbab dan pakaian saya. Apa lagi saya datang dari kampung. Tahun ini saya lulus kuliah sarjana fakultas hukum dan saya ingin melanjutkan S2 disana. Apa anda bisa membantu saya? Mungkin dengan menceritakan keadaan dan kebudayaan disana…itupun kalau anda tidak keberatan….Terimakasih
Saya seringkali mendapat pertanyaan seperti itu, terutama dari wanita muslim yang berjilbab di Indonesia. Mereka mengkhawatirkan macem-macem, mulai tidak boleh pakai jilbab di kampus, sulit beribadah, dan lain-lain. Walaupun saya tidak kenal dengan orang itu, tapi saya senang menjawab dan berbagi pikiran. Tidak ada istilah “jaim” alias “jaga image” bagi saya.
Karena lagi ingin jawab cepet, aku jawab saja message itu :
Assalamu’alaikum
Siapa nama anak di kota XXX? Sotoi banget tuh orang. Rasis banget tuh anak di kota XXX. Ngapain ngurusin agama orang lain! Tidak sepantasnya memakin manusia dalam berdiskusi. Kalau memaki pendapat sih oke-oke saja, debat atau apapun.
Disini banyak mahasiswa muslim. Jilbab TIDAK DILARANG di universitas. Simbol agama memang dilarang di public school, mulai hingga sekolah menengah. Ini konsep sekuler prancis atau laicite. http://en.wikipedia.org/wiki/French_law_on_secularity_and_conspicuous_religious_symbols_in_schools
Kamu baca tulisan dari temen saya deh, siapa tahu membuka wawasan. http://kabarwarga.com/kabarwarga/1059_sekularisme+perancis+tengah+diuji.html dan http://www.ppifrance.fr/index.php?option=com_idoblog&task=viewpost&id=190&Itemid=85
Kalau mau jujur, Islam justru lebih berkembang di Prancis dg sistem sekuler, karena sekulerisme memberi kesetaraan dan tidak menyampuri urusan agama orang. Serta semua agama posisinya sama. Tiap tahun selalu ada orang asli Prancis masuk Islam. Jumlah mesjid makin meningkat.
Memang, muslim disini identik dengan “arab”. Jadi, image muslim yg terbentuk di prancis adalah kaum arab. Saya sendiri bukan anti arab. Tapi saya tidak pernah sepakat image Islam = Arab. Biarkan saja kita menjaga nilai-nilai Islam tanpa sekat-sekat kaum tertentu.
Kalau masalah pelaksanaan ibadah, semua tergantung masing-masing orang. Contoh untuk shalat, tidak semua orang juga rajin shalat. Masih ada pula muslim yang minum wine, makan babi, dll. Tapi seperti yg saya bilang, semua tergantung masing-masing.
Untuk shalat, saya tidak terganggu. Memang kadang disini men-jamak shalat karena masalah jadwal kuliah.
Disini juga ada komisi fatwa sendiri untuk negeri Prancis. Dg kondisi yang berbeda seperti ini, fatwa dari Indonesia memang tidak semuanya bisa diterapkan di Prancis. Di Indonesia, banyak mesjid, jadi tak masalah jika mau shalat. Contoh paling simple. Kalau paling gampang, saya pernah numpang shalat di apartemen rekan saya yg non muslim, atau dikelas kosong, dll.
Silakan saja jika ada pertanyaan lagi.
Makanya saya lebih suka diskusi dengan email atau tulisan daripada chatting. Pertanyaan kamu bisa dijawab tuntas ketimbang chatting.
Wassalam
Itu tadi model pertanyaan dari rekan di Indonesia. Well, inilah budaya hidup berbeda. Hidup dengan nilai-nilai Islam bukan berarti harus menjauh dari lingkungan sekitar dengan membentuk komunitas sendiri yang terisolasi. Hidup dengan Islam, yang terpenting adalah menjaga nilai-nilai Islam, baik secara vertikal maupun horizontal.
Dulu sebelum kesini, saya berpikir di Prancis semua serba susah melaksanakan ibadah. Tidak juga kok. Semua tergantung masing-masing orang. Isu jilbab dilarang di Prancis sedemikian hebat terdengar di Indonesia.
Bukan…bukan…tidak dilarang.
Yang benar, simbol agama di larang di sekolah hingga sekolah menengah. Dan itu adalah semua simbol agama. Dan berlaku di sekolah milik pemerintah. Kalau ingin masih pakai simbol agama, masih ada sekolah swasta, yang tentu saja biayanya berbeda.
Di universitas? Come on… mari kita cari informasi yang benar langsung dari sumber. Jangan cari info simpang siur. Info dari media massa di Indonesia kadang ada yang kurang akurat. Entah penulis berita yang tidak mengerti, penulis berita yang tidak mencari sumber berita dengan pasti, atau penulis berita yang sok tahu alias sotoi.
Tidak ada larangan menggunakan jilbab di universitas. Di tempat saya kuliah, saya kerapkali menemukan mahasiswa berjilbab. Oke deh, mari coba ke universitas yang lain. Dan saya bisa menemukan mahasiswi berjilbab di universitas yang lain.
Lalu, kalau isu burqa? Isu ini masih jadi perdebatan, dan belum jadi keputusan. Isu ini jadi ujian tersendiri untuk sekulerisme ala Prancis yang memberikan kebebasan bagi semua orang untuk masalah keyakinan.
Bagi seorang Muslim, dia tetaplah bisa menjadi seorang Muslim di Prancis, dengan kondisi yang berbeda dengan negara mayoritas Muslim. Yang penting bagaimana dia bisa konsisten memegang teguh nilai-nilai ajaran Islam.
Mari kita lihat sekulerisme di Prancis sebagai sebuah tantangan. Jangan berpikir ini menjadi hambatan. Setiap kondisi pasti menciptakan kreativitas untuk memecahkan masalah masing-masing.
Contoh gampang. Anak-anak disini sering ngajak party tiap week end. Party memang jadi ajang efektif untuk sosialisasi. Saya bukan orang yang senang party. Namun sekali dua kali pernah datang sekedar untuk sosialisasi. Datang saja satu atau dua kali, sekedar untuk menghormati undangan. Asalkan jangan minum alkohol. Bukankah itu jalan tengah yang baik?
Dalam keseharian bergaul dengan rekan-rekan, kadang muncul beberapa pertanyaan tentang Islam. Misal, “Mengapa Islam melarang minum alkohol?”, ” Mengapa Islam mengharuskan shalat lima waktu? “, atau “Ooooo…ternyata Muslim itu tidak boleh minum alkohol ya…lalu kok si X kemarin minum alkohol, padahal dia Muslim” Lho kok?
Pertanyaan yang sederhana. Tidak terlalu berat. Tidak seberat kajian ketika saya kuliah di kampus yang sampai membuka kitab kitab khusus dan berdikusi dengan murabbi atau kajian apapun.
Semua pertanyaan ringan yang mestinya bisa dijawab seorang Muslim dengan pengetahuan ke-Islam-an tidak terlalu tinggi. Disini mereka tidak butuh jawaban tinggi kok. Cukup jawab dengan logika dasar. Dan itu memang dituntut kecerdikan dari si penjawab.
Oke lah, kembali ke masalah sekulerisme dan jilbab. Jadi sekali lagi saya tekankan, jangan jadikan sekulerisme sebagai sebuah halangan untuk menuntut ilmu di Prancis. Kita barangkali masih perlu belajar dari negara ini. Misal, bagaimana memperlakukan orang miskin (masih ingat dengan pasal dalam UUD bahwa “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”?). Atau bagaimana negeri ini memberikan pendidikan yang terjangkau oleh masyarakat dengan biaya murah meriah. Justru saya membandingkan di Indonesia, biaya kuliah makin selangit dan tidak terjangkau bagi rakyat miskin.
Saya bukan berarti bilang sistem keagamaan di Prancis lebih bagus dari Indonesia. Atau Indonesia lebih bagus dari Prancis.
Tidak begitu.
Semua negara punya kondisi masing-masing. Dan kita dituntut untuk berpikir bagaimana adapatasi dengan kondisi negara itu. Dan yang lebih penting, kita dituntut untuk berpikir sesuai dengan kondisi saat ini. Ketimbang sibuk melulu bernostalgia tentang kejayaan Islam di jaman khalifah. Ide ini bisa jadi hanya uforia jika berpikir di masa sekarang.
Mengapa tidak berpikir bagaimana membangun ummat Muslim yang lebih maju secara human capital, lebih cerdas dari penguasaan ilmu pengetahuan, tidak gampang terpengaruh hoax hoax murahan dari internet (seperti Neil Amstrong masuk Islam, Napoleon masuk Islam atau apapun), dan segala kemajuan lain?
“A pessimist sees the difficulty in every opportunity; an optimist sees the opportunity in every difficulty” (Winston Churchill)




Betul sekali. Islam di Indonesia emang kadang manja. karena terbiasa dengan sistem mayoritas, sehingga kurang peka dan benar-benar merasakan arti toleransi. padahal, dengan menjadi minoritas, justru menjadikan kita berusaha mengkaji dan mempertanyakan nilai-nilai dari Islam itu sendiri. dan dari keingintahuan itu, justru kita akan lebih mengenal Islam gak hanya dari esensi, namun lebih ke eksistensialismenya. (maklum, saya penggemar eksistensialisme filsuf Yunani :p).
Dan setau saya, Islam di Perancis itu agama kedua terbesar setelah Katolik. apalagi di Perancis selatan. bahkan aliran kesenian, mulai dari bangunan dan musik di daerah itu pun juga terpengaruh oleh budaya Islami.
Saya belum pernah tinggal di Perancis, masih di Jakarta, Indonesia saja. tapi, saya berusaha untuk tidak mencari teman yang homogen. Saya punya teman (benar-benar teman, bukan sekedar kenal) dengan kaum Nasrani, Hindu, Agnostic bahkan Atheis dengan berbagai latar belakang budaya. dan hal ini justru memperkaya pandangan dan membuat tolerance span saya jadi semakin lebar. dan tanpa sadar, justru membuat saya semakin bersyukur saya terlahir sbg Islam.
Percaya deh, jadi minoritas itu gak selamanya kerugian.
By: vie on February 25, 2010
at 10:50 am
Mas arip yth,
Alhamdulillah. terima kasih mas arip mengangkat isu ini. setidaknya saya jadi tahu, dan bisa meyakinkan camer (calon mertua) heuheu.. senang sekali mas
hehe… keep posting tentang style dan gaya hidup di perancis mas..
By: Hari on February 25, 2010
at 11:36 am
Nice point of view!
intinya…
bedakan agama dan budaya…
Di Indonesia agama Islam bersinergi dengan budaya kita…
Kita juga harus bisa dong memadukan agama kita dengan budaya Prancis…
Setuju sama mas Arip… Open our mind!! kita harus bisa mengerti cara berpikir orang lain. Jangan egois bahwa prinsip kita yang paling benar…
Bonne chance à tous!!
By: kus on February 25, 2010
at 1:03 pm
# Hari
)
Ditunggu undangan,
# Kus
Selamat main ski
By: aripmuttaqien on February 25, 2010
at 1:39 pm
[...] Message dari Facebook : Sekulerisme ala Prancis Tulisan asli : http://aripmuttaqien.wordpress.com/2010/02/25/message-dari-facebook-sekulerisme-di-prancis/ [...]
By: Message dari Facebook : Sekulerisme ala Prancis « Blog PPI Toulouse on February 25, 2010
at 2:51 pm
Makasi infonya mas Arip.. Sangat berguna banget buat saya dan tentu saja teman saya yang akhir2 ini sedang gundah tentang penggunaan jilbab di Perancis..Kebetulan dikasih tahu seorang teman yang lagi kuliah di Perancis tentang postingan artikel mas Ariep ini. Jadi saya bisa mengetahui info2 tentang isu2 mengenai Islam di Perancis dari sumber yang bisa dipercaya hehe..
By: Threeas on February 25, 2010
at 7:46 pm