Lanjutan dari cerita sebelumnya.
Dua beasiswa ini aku kejar saat aku menjelang resign dari kantor, yaitu bulan Oktober. Asian Youth Fellowship (AYF) adalah beasiswa untuk belajar ke Jepang. Kalau aku dapat AYF, aku akan diberi kursus bahasa Jepang selama satu semester di Kyoto, Jepang. Sambil belajar bahasa Jepang, aku mempersiapkan diri untuk tes masuk universitas. Lalu kalau diterima universitas, berarti aku akan dibiayai oleh Pemerintah Jepang.
Federal Commission for Scholarship for Foreign Student (FCS) adalah beasiswa dari Pemerintah Swiss. Beasiswa ini cukup rumit prosesnya. Yang berminat daftar harus sudah diterima di salah satu universitas di Swiss. Dengan modal acceptance letter, aku mendaftar ke Kedubes Swiss. Nggak cuma acceptance letter. Aku mesti melengkapi dengan dokumen-dokumen pelengkap, seperti CV, motivation letter, research plan dan sebagainya. Pokoknya, ribet deh.
Untuk beasiswa Swiss, aku melamar dengan modal acceptance letter dari Université de Neuchâtel. Aku ambil program ilmu ekonomi selama dua tahun. Begitu dapat surat dari Swiss, langsung aku kirim ke Kedubes Swiss. Tak berapa lama, permintaan aku ditolak karena program itu menggunakan bahasa campuran Inggris dan Prancis. Padahal saat ini aku belum punya kemampuan bahasa Prancis menengah. Itulah alasan Kedubes saat itu.
Aku tidak patah arang. Kembali aku ajukan acceptance letter dari Université de Lausanne untuk program ekonomi selama dua tahun. Program ini resmi pakai bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Dan berhasil. Kedubes Swiss akhirnya mengirimkan formulir pendaftaran.
Aku diberi form pendaftaran untuk FCS. Form sejumlah lima halaman. Satu lagi ditambah dengan formulir cek kesehatan satu halaman. Banyak banget yang harus diisi. Mulai dari pertanyaan personal hingga universitas. Satu yang menarik dari form aplikasi adalah penggunaan empat bahasa, yaitu Inggris, Prancis, Jerman dan Italia. Bukankah unik? Wajar karena Swiss memang menggunakan empat bahasa, tergantung di bagian wilayah sebelah mana.
Di akhir Oktober, semua aplikasi untuk AYF dan FCS sudah beres. Aku tinggal menunggu hasil. Dua-duanya dikirim via pos. FCS memang beasiswa paling rumit. Selain mengisi form yang rumit, aku mesti melengkapi dengan terjemahan ijasah, transkrip, akte hingga ijasah SMA. Ribet dan rumit!
Selama November aku menunggu kabar. Pertengahan November aku mendapat kabar bahwa aku masuk sesi interview FCS. Alhamdulillah. Tidak sia-sia usahaku. Proses dokumen FCS ini benar-benar rumit. Paling rumit dari beasiswa yang pernah kucoba.
Akhir November aku datang ke Kedubes Swiss. Karena mesti masuk wilayah negara asing, aku mesti menjalani pemeriksaan. Harus steril dari gangguan keamanan.
Didalam aku menjalani tes bahasa Inggris tertulis. Tes yang sulit karena dalam waktu satu jam aku mesti mengerjakan banyak soal, mulai dari grammar hingga menulis. Hampir saja waktunya tidak cukup. Alhamdulillah selesai pula meski pusing.
Setelah tes bahasa Inggris, dilanjutkan interview dengan dua orang. Satu orang Swiss dan satu orang Indonesia. Interview yang standar. Tanya jawab selama setengah jam, mulai dari personal, latar belakang, aktivitas, motivasi, universitas dan rencana karir. Perasaan aku sih jawab juga santai dan standar. Sesuai pengalaman, lama-lama aku punya standar jawaban sendiri.
Sebelum selesai, aku sempat bertanya ke mereka berapa jatah beasiswa. “Only two scholar,”. Wah wah wah, pelit sekali. Bayangkan, Indonesia sebagai negara berkembang dan berpenduduk terbesar keempat didunia. Mengapa cuma dikasih dua beasiswa? Memang konyol. Tapi ya sudahlah. Ini kan terserah mereka yang berhak menentukan.
Menunggu, menunggu dan menunggu. Hingga tibalah saat itu. Aku mendapat email dari Tokyo, Jepang. Ini dia emailnya :
Tokyo, 6 March 2009
Subject: Announcement of AYF 2009 Selection (Indonesia)
Dear AYF Applicant,Thank you for applying to the Asian Youth Fellowship (AYF).
The Selection Committee of the AYF regrets to inform you that You Were Not Included in the shortlist of applicants subject for interview by the AYF selection committee member.The large of number of applicants as well as the high quality of applicants made the selection highly competitive. Due to the limitation of numbers of final selectees to join the AYF, the selection committee did indeed face a very tough task of eliminating applicants that could have eligible candidates if the competition was not so tight.
We, therefore would like to extend our appreciation to your application and please do not be discouraged with this outcome to challenge opportunities to pursue your studies abroad.
Yours sincerely,
Yasushi Ishida
Secretariat
AYF Selection Committee
Berarti gagal tuh. Setelah sekian lama menunggu, aku mengalami kegagalan beasiswa. Tapi saat menerima email ini aku cuek. Biarkan saja gagal, toh aku sudah dapat beasiswa Erasmus Mundus (saat menerima email 6 Maret 2009, aku sudah dapat konfirmasi bahwa aku masuk main list Erasmus Mundus Scholarship).
Bagaimana untuk FCS? Hingga bulan Maret 2009, aku belum juga dapat kabar tentang FCS. Untuk kejelasan nasib, di bulan Juni 2009, aku memberanikan diri tanya ke email Kedubes. Tak berapa lama mereka menelepon. “Bukankah surat sudah dikirim ke alamat kamu?” tanya mereka. Aku jawab, “Saya tidak menerima surat. Bolehkah dikirim ulang. Lewat email juga tidak masalah,”
Tak berapa lama, akhirya aku terima juga email dari Kedubes. Ini isi surat scanned version :
Berne, 24-03-2009
Demande de Bourse : Décision négative
Monsieur,
Il y a quelque temps, vous avez sollicité une bourse de la Confédération Suisse. Votre candidature a été examinée en même temps que les autres qui nous sont parvenues.
Le nombre de candidatures reçues dépassant largement les bourses offertes, la Commission fédérale des bourses s’est vue contrainte de procéder a un choix très rigoureux. Ceci nous a conduits a devoir également écarter de bonnes candidatures.
Malheureusement, nous devons vous communiquer que la Commission ne vous a pas attribue de bourse. Vous comprendrez certainement que nous ne pouvons pas tenir de correspondance au sujet des raisons qui nous ont amènes a prendre cette décision négative.
Dans l’espoir que cette information vous permettra de prendre d’autres dispositions, nous vous prions de recevoir, Monsieur, nos salutations les meilleures.
Secrétariat d’Etat a l’éducation et a la recherche SER
Dr. Olivier Brighenti
Responsable Secrétariat Commission fédérale des bourses pour étudiants étrangers CFBE
Apa artinya? Secara singkat aku gagal. Nasib bukan disini. Tapi tidak apa deh. Toh, saat aku dapat pengumuman beasiswa Swiss ini (Juni 2009), aku sudah dapat kepastian beasiswa ditempat lain. No problem!
July 4, 2009 at 9:11 am
[...] kali ini. Wah, ya sudah lah. Bukan rezeki lagi untuk kali ini. Memang belum jodoh. Barangkali ada cerita selanjutnya. Possibly related posts: (automatically generated)Current Articles on EfficiencyPoster – MPI [...]
July 21, 2009 at 4:43 pm
Weits..
Bukannya mas Arip ini lulus Eiffel scholarship juga ya?
Ato saya salah orang?
Selamat mas, atas perjuangannya..
July 28, 2009 at 12:32 pm
@ Freddy,
iya bener mas, saya dapat eiffel scholar
August 2, 2009 at 12:13 am
[...] under Beasiswa, Kisah Hidup 1 Comment Ini pengalaman beasiswa paling menyenangkan dari sebelum-sebelumnya. Mungkin pembaca akan tahu mengapa aku bilang paling [...]