Ini kisah lanjutan dari sebelumnya.

Info ini aku dapat dari milis Beasiswa@YahooGroups.Com. Disitu ada tawaran menarik untuk riset tentang ekonomi di Max-Planck-Institut für Ökonomik (Max Planck Institute of Economics). Lembaga ini dikelola University of Jena, Jerman.

Aku termasuk nekat apply program ini. Asal tahu saja, ini program PhD. Padahal aku baru lulus sarjana. Mengapa aku nekat apply? Pertama, di syarat ada ketentuan bahwa bachelor boleh apply ke program itu. Kedua, aku merasa punya kemampuan dan cocok dengan bidang. Pede aja lagi, hehe

Semua syarat aku lengkapi. Yang paling sulit adalah menulis research proposal. Aku mesti rajin baca jurnal untuk mencari ide riset. Aku mesti rajin buka website untuk melihat diskusi seputar topik riset. Akhirnya, jadi juga research proposal. Pusing nulis research proposal. Tapi ini pengalaman menyenangkan.

Semua aplikasi dilakukan online. Cukup via email tanpa perlu via pos. Untuk beberapa dokumen, cukup dikirim scanned version, mulai dari ijasah, transkrip hingga rekomendasi. Ohya, rekomendasi dikirim langsung dari si penulis rekomendasi. Khusus untuk aplikasi kali ini, aku gunakan rekomendasi dari Ketua Jurusan dan Pembimbing Skripsi.

Yang aku ingat, aplikasi dikirim seminggu menjelang lebaran Idul Fitri tahun 2008. Jadi aku datang dalam kondisi puasa Ramadhan. Tentunya aku datang ke kampus dengan cabut dari kantor. Hehehe

Menunggu dan menunggu. Tak ada kabar. Hingga akhirnya pertengahan November, aku dapat kabar dari email, bahwa aku masuk seleksi interview. Interview akan dilakukan dua profesor dari Jerman via telepon. Lumayan deh, ini jadi pengalaman pertama interview via telepon.

Waktu yang kutunggu tiba. Interview berlangsung setengah jam. Mulai dari jam setengaj tiga sore. Kalau di Jerman, tentu masih pagi. Dengerin logat-logat Jerman. Untung aja suaranya jelas. Tapi tetap aja kadang-kadang ada bahasa yang enggak ngerti.

Telinga sampai terasa panas. Maklum, waktu itu aku pakai handphone. Wajar saja jika batere handphone terasa panas.

Apa saja yang ditanya? Pusing aku dengar pertanyaan dua profesor. Dia nanya mulai dari aktivitas hingga proposal riset. Ada pula yang ngetes pengetahuan tentang ekonomi. Aku masih ingat satu pertanyaan, “When will you use general equilibrium?” Ngetes kali yee??? Hahaha

Ada pula pertanyaan tentang buku yang aku sukai. Walah, aku bingung jawab apa.

Interview via telepon emang terdengar mudah. Kamu tidak harus melihat wajah. Jadi mengurangi rasa tegang. Tapi tunggu dulu. Tetap saja ada enggak enak. Aku sering mendapat kualitas suara yang kurang bagus. Akibatnya, aku juga bingung dengar dia bicara apa. Belum lagi kalau logat bicara English kurang enak didengar. Padahal aku mesti berpikir cepat bagaimana menjawab pertanyaan.

Sebulan sudah lewat, tak ada kabar sama sekali. Hingga di akhir Desember aku terima surat dari Jerman. Tanpa membuka surat, sebenarnya aku sudah bisa nebak apa isi surat. Pasti surat penolakan. Hahaha…

Dear Mr Muttaqien,

I am writing in matters of your application to our graduate school “Human Behaviour in Social and Economic Change”.

During the last week we had a couple of interviews with applicants one of which you have been. The selection of candidates was a tough procedure and highly competitive. We got to know you as an interesting and engaged candidate. With respect to your skills and knowledge we got the impression that you have experienced a sound and broad education; nevertheless we also felt that in the one and the other field you need to work hard and to catch-up to the standards required. On this basis we unfortunately had to decide to not accet your application to our graduate school.

We are sorry to have no better news for you and wish you all the best for your further career.

With kind regards from Jena,

Prof. Dr. Uwe Cantner

Ternyata benar sekali. Surat itu mengabarkan bahwa aku gagal untuk seleksi kali ini. Wah, ya sudah lah. Bukan rezeki lagi untuk kali ini. Memang belum jodoh. Barangkali ada cerita selanjutnya.