Hyme Universitas Indonesia

Ciptaan : H.S. Mutahar

Almamaterku setia berjasa
Universitas Indonesia
Kami wargamu
Bertekad bersatu
Kami amalkan tridharmamu
Dan Mengabdi Tuhan
Dan mengabdi bangsa
Dan Negara Indonesia

Keterangan :
Lagu yang dibawakan saat acara resmi di lingkungan Universitas Indonesia

Add comment June 30, 2008

Lagu-Lagu semasa di kampus

Masih ada yang ingat dengan lagu ini?

Buruh Tani

buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
bersatu padu rebut demokrasi
gegap gempita dalam satu suara
demi tugas suci yang mulia
hari-hari esok adalah milik kita
terciptanya masyarakat sejahtera
terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa Orba
marilah kawan, mari kita kabarkan
di tangan kita tergenggam arah bangsa
marilah kawan, mari kita nyanyikan
sebuah lagu tentang pembebesan
di bawah kuasa tirani
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku satu langkah pasti

 

Add comment June 30, 2008

Spanyol juara Euro 2008

Selamat kepada Spanyol karena telah menundukkan Jerman dengan skor 1-0 pada final Euro 2008. Gol yang dicetak Fernando Torres menjadi satu-satunya gol dalam pertandingan final. Kedua tim bermain impresif. Seperti inilah pertandingan, ada yang menang dan ada yang kalah. Untuk Jerman, jangan bersedih. Untuk spanyol, selamat berpesta.

Add comment June 30, 2008

23 tahun

Tidak terasa, umurku sudah 23 tahun. Beragam pengalaman dan perjalanan hidup telah aku dapatkan. Baik pahit dan manis.

Alhamdulillah….

Add comment May 26, 2008

Terperosok (Kedua Kali) Akibat Bantuan Langsung Tunai (BLT) Plus

Pemerintah berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Langkah ini akan dilakukan beberapa minggu mendatang untuk mengamankan APBN 2008. Menurut rencana, paling lambat kenaikan harga BBM akan diberlukan awal Juni 2008. Alih-alih terjadi kenaikan harga BBM, namun yang terjadi adalah kenaikan harga bahan pokok di beberapa daerah. Inflasi telah terjadi akibat ekspektasi masyarakat terhadap kenaikan harga BBM.
Dasar utama rencana kenaikan harga BBM adalah besarnya dana yang harus dialokasikan untuk subsidi BBM akibat kondisi global. Kondisi global adalah terjadinya kenaikan harga minya bumi. Harga minyak bumi sudah menyentuh US $ 120 per barel, jauh dari asumsi pemerintah sebesar US $ 95 per barel. Tidak hanya asumsi harga minyak bumi yang terganggung. Pemerintah juga berencana merevisi asumsi pertumbuhan ekonomi, inflasi tahunan, nilai SBI Rate dan kurs rupiah terhadap dollar AS.
Upaya penghematan BBM adalah salah satu upaya untuk mengamankan APBN 2008. Rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM sebesar rata-rata 30 persen telah memicu kepanikan dari masyarakat. Kepanikan adalam bentuk lain adalah terjadinya antrian di stasiun pom bensin.

Pemerintah memberikan kompensasi kenaikan harga BBM dengan meluncurkan Bantuan Tunai Langsung (BLT) Plus. Program BLT Plus dilaksanakan untuk melanjutkan program pemberantasan kemiskinan yang dilakukan pemerintah. Apa yang dimaksud dengan BLT Plus? BLT Plus adalah bantuan subsidi langsung sebesar Rp 100.000,- per bulan untuk rumah tangga miskin. Tidak hanya mendapatkan bantuan uang tunai, rumah tangga miskin juga mendapatkan bantuan berupa minyak goreng dan gula.

Sepintas, program BLT Plus adalah salah program yang tepat sebagai bentuk kompensasi kenaikan harga BBM. Alasan logis yang digunakan pemerintah adalah subsidi harus diberikan kepada sasaran yang tepat. Subsidi BBM, dalam hal ini termasuk subsidi yang tidak tepat sasaran untuk rakyat miskin. Pengguna BBM, khususnya bensin dan solar, banyak juga didominasi kalangan menengah ke atas dan kalangan atas.
Kita tentu masih ingat dengan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahun 2005. BLT diberikan sebagai bentuk kompensasi kenaikan harga BBM pada Oktober 2005. Besarnya bantuan adalah sama dengan rencana bantuan yang akan disalurkan dengan BLT Plus.
Bagaimana dengan program BLT Plus? Seharusnya pemerintah berkaca dari pelaksanaan program BLT yang telah dilakukan beberapa tahun lalu. Pada praktiknya, BLT tidak efektif menjangkau rakyat miskin dan menimbulkan berbagai masalah di lapangan.
Apa saja ketidakefektifan penyaluran BLT? Pertama, BLT tidak memiliki efektifitas dari segi penyaluran di lapangan. Kita sering menjumpai kasus pemberian bantuan yang tidak tepat sasaran. Misalnya, rumah miskin justru tidak mendapatkan bantuan namun rumah tangga yang lebih mampu mendapatkan bantuan.

Barangkali pemerintah dapat menanggap bahwa ini bersifat kasuistik. Namun pada praktiknya, kesalahan penyaluran bantuan berawal dari data yang tidak jelas dan menimbulkan gesekan di masyarakat. Hingga sekarang, tidak pernah dilakukan pendataan dan pencacahan ulang tentang data rumah tangga miskin tersebut.
Kedua, besarnya BLT Plus yang sama dengan BLT pada tahun 2005. Jika kita berpikir menggunakan logika, tentu saja tidak masuk akal. Faktor inflasi, kenaikan biaya hidup dan menurunnya daya beli masyarakat mestinya dipertimbangkan dalam memperhitungkan besarnya bantuan.
BLT Plus memang sedikit berbeda dengan BLT, yaitu terdapat tambahan barang kebutuhan pokok. Namun BLT Plus tentu saja tidak akan cukup untuk meng-counter kenaikan biaya hidup pada saat ini. Belum lagi jika kita berpikir tentang inflasi yang akan terjadi akibat kenaikan harga BBM, yang tentu saja akan menambah beban masyarakat miskin.
Ketiga, dalam masalah sosial, BLT menyebabkan moral hazard, dimana BLT dapat menurunkan mental masyarakat dan tidak mendidik secara jangka panjang. Terdapat sebagian masyarakat yang pada akhirnya mengaku miskin karena ingin mendapatkan bantuan. Mereka bangga dengan ’cap miskin’ demi memperoleh rupiah tertentu. Mental masyarakat akan menjadi buruk dengan program BLT.
Keempat, penyaluran BLT bermasalah karena tidak didukung dengan kelembagaan yang baik. Penerapan BLT secara terburu-buru dan tidak disertai dengan kesiapan aparat pemerintah tentu saja akan berakibat tidak efektifnya penyaluran BLT.
Pemerintah semestinya memperhatikan hasil evaluasi BLT sebelum berencana menerapkan BLT Plus. Jangan sampai penyaluran BLT Plus hanya untuk ’tambal sulam’ sebagai pembenaran kenaikan harga BBM. Jika memang pemerintah ingin meningkatkan daya beli masyarakat miskin, masih terdapat langkah yang dapat dilakukan, terutama dengan memperhatikan bidang pendidikan dan kesehatan. Dalam jangka panjang, bidang pendidikan dan kesehatan akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Atau jika pemerintah ingin tetap memberikan bantuan langsung kepada rakyat miskin akibat kenaikan biaya BBM, pemerintah dapat memberikan Bantuan Langsung Tunai Bersyarat (BLTB). Skema ini dikenal dengan nama cash conditional transfer (CCT), dimana pemerintah memberikan bantuan kepada rumah tangga sangat miskin (RTSM) dengan sejumlah kewajiban tertentu (misalnya kewajiban untuk menyekolahkan anaknya, memeriksakan kesehatan dan lain-lain). Sedangkan skema Bantuan Tunai Langsung dikenal dengan nama uncondional cash transfer (UCT), dimana pemerintah hanya memberikan bantuan tunai tanpa syarat apapun. CCT sudah dilakukan di beberapa daerah yang menjadi pilot project, antara lain beberapa kota/kabupaten di provinsi Gorontalo, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur.
Skema CCT lebih masuk akal karena dapat membantu RTSM secara jangka pendek. Skema CCT yang dibuat dengan memberikan syarat tertentu kepada RTSM akan mampu mengkontrol RTSM untuk menggunakan dana tersebut secara bermanfaat. Bantuan CCT dapat berupa uang tunai dan bantuan bahan makanan pokok.
Syarat pertama untuk melaksanakan CCT adalah pendataan yang tepat dan kelembagaan yang bagus.

Kesalahan pendataan adalah awal dari masalah. Kelembagaan pemerintah harus melibatkan masyarakat untuk mengurangi gesekan di tingkat grass root. Inilah sebuah solusi yang lebih optimal daripada sekedar mengulang pelaksanaan BLT tahun 2005 yang terbukti banyak menimbulkan permasalahan.

Arip Muttaqien, pengamat ekonomi dan sosial

1 comment May 19, 2008

Kesalahan Ejaan di KRL

Hampir tiap hari aku berangkat ke kantor naik KRL. Jika berangkat jam 7.30, maka aku akan naik KRL AC Ekonomi jurusan Tanah Abang. KRL tersebut berangkat dari stasiun UI kira-kira jam 7.35, jam 7.40 atau sekitar itu.

Mengapa memilih KRL AC Ekonomi? Tidak lain karena KRL ini tidak terlalu dipenuhi penumpang berjubelan sebagaimana KRL Ekonomi. Males banget, kalau baru mau berangkat kerja sudah berdesak-desakan….

Ketika naik KRL AC Ekonomi, tidak sengaja aku mengamati di dalamnya. Banyak aktivitas di dalamnya, mulai pekerja kantoran yang membaca koran untuk sekedar mengetahui berita hari ini, ibu-ibu yang menggendong anaknya, penumpang yang mengobrol, atau aktivitas lainnya seperti diriku sendiri yang hampir tiap hari ketemu temen kuliahku dulu (Kebetulan mereka juga naik KRL yang sama).

Salah satu hal yang tidak luput dari perhatianku adalah aksesoris KRL AC Ekonomi. KRL adalah media efektif untuk melakukan iklan. Karena iu, tidak ada salahnya jika PT. KAI menyambut kesempatan ini. Sayangnya, hingga saat ini belum ada perusahaan yang memasang iklan di dalam KRL. BUktinya, masih ada saja tulisan ajakan untuk beriklan dari PT. KAI.

l

Ada yang aneh dengan foto tersebut? Tentu saja! Penulisan “The Best Way to Advertise Your Adds”. Tentu saja yang ini tidak ada yang aneh. Namun perhatikan berikutnya, “TRAIN ADVERTISMENT”

Udah tahu deh…mengapa hingga sekarang tidak ada yang pasang iklan di KRL AC Ekonomi. Hahaha….

Selamat mencari tahu jawabannya

1 comment April 15, 2008

Obama-Clinton, McCain-Huckabee-Romney dan Partai Politik di Indonesia

Super Tuesday, 5 februari 2008.

Amerika Serikat, negara sang kuasa sedang sibuk dengan urusan pemilihan kandidat presiden. Dari Demokrat ada Hillary Clinton dan Barack Obama. Dari Republik ada John Mc Cain, Mike Huckabee dan Mitt Romney.

Terkadang saya iri dengan sistem demokrasi di sana. Partai yang dominan di AS hanya Demokrat dan Republik. Melihat sistem pemilihan kandidat presiden AS, dimana calon-calon Republikan dan Demokrat. Kandidat tersebut berkeliling di seluruh negara bagian AS untuk melakukan kaukus.  Artinya sebelum mereka menjadi calon presiden-pun, mereka keliling ke negara bagian dan rakyat sendiri berpartisipasi menentukan calon presiden.

Di sini, di Indonesia, calon presiden hanya menjadi pilihan elit partai. Dulu Partai Glokar pernah mengadakan konvensi presiden. Namun untuk kedepan, mereka meniadakan konvensi dengan berbagai alasan.

Coba saja kalau partai politik di Indonesia mengadakan konvensi. Setidaknya calon yang muncul sebagai presiden benar-benar berasal dari suara rakyat, bukan sekedar pilihan elit partai yang notabene-nya berada di Jakarta.

Parpol…ah…parpol disini kok tidak dewasa juga. Seolah mereka saja yang berwenang menentukan kepemimpinan nasional. Calon presiden saja harus berasal dari parpol. Padahal jika melihat dari tujuan secara garis besar, adalah menghasilkan kader atau calon pemimpin, setidaknya hal tersebut tidak hanya bisa dilakukan oleh parpol. Banyak organisasi massa lain (bukan parpol) yang mampu menghasilkan pemimpin. Misalnya, kita sudah tidak asing lagi dengan organisasi keagamaan besar di Indonesia, seperti NU dan Muhammadiyah. Lalu masih banyak NGO atau LSM yang saya pikir juga mampu menghasilkan pemimpin. Jika sistem perekrutan kepemimpinan nasional hanya didominasi oleh partai politik…Waduw…jahat banget tuh…

Padahal sudah terbukti parpol di Indonesia belum juga dewasa.

Saya bukannya anti parpol kok. Cuma saya mengkritik saja peran parpol dalam sepuluh tahun terakhir ini belum mengalami peningkatan yang signifikan dalam mensejahterakan rakyat…

Add comment February 6, 2008

Selamat datang……..

Hallo, semuanya…..

Ketemu lagi dengan open-mind.

Lama aku tidak menulis di blog ini.

Mulai sekarang aku akan terus menulis di blog ini, minimal dua hari sekali deh.. Kan sekarang internet sudah bisa digunakan dengan mudah dan aksesnya luas.

Doakan saja aku akan rajin menulis blog…

Selamat datang di dunia blog

2 comments February 6, 2008

Ke’tidak’berlanjutan Lingkungan sebagai Korban Pembangunan Ekonomi

Sudah menjadi rahasia umum lagi bahwa kerusakan lingkungan adalah dampak buruk dari eksploitasi manusia terhadap alam secara berlebihan. Terakhir, isu keberlajutan lingkungan menguat seiring dengan pertemuan pemimpin negara anggota APEC di Sydney (2007). Pemanasan global adalah sebuah istilah yang sedang trend  bahkan dibicarakan dalam pertemuan APEC yang mestinya membahas isu kerjasama perdagangan.

Ancaman pemanasan global telah menjadi isu internasional. Indonesia adalah salah satu negara yang menjadi korban pemanasan global dan salah satu negara yang memberikan andil dalam pemanasan global. Mengapa pantas disebut sebagai korban? Fakta menunjukkan bahwa telah terjadi beberapa kasus perubahan iklim dan cuaca yang sangat mencolok, peningkatan permukaan air laut, kenaikan suhu rata-rata dan kerusakan lingkungan. Mengapa pantas disebut sebagai penyebab? Di Indonesia, penghancuran lingkungan terus menerus berlanjut. Misalnya, perambahan hutan dan kerusakan ekosistem terus berlanjut, sementara itu regenarasi berjalan lambat.

Willem Hogendijk telah menunjukkan kesalahan fatal terminologi ‘pertumbuhan ekonomi’ (economical growth). Menurut pemikiran Hogendijk, istilah pertumbuhan ekonomi yang telah dinomorsatukan oleh mayoritas negara di dunia, sebetulnya adalah ‘pertumbuhan produksi’. Dengan aktivitas saat ini, perekonomian sesungguhnya tidak sedang berkembang karena sumber daya (resources) semakin menyusut. Parahnya, depresiasi terhadap sumber daya tidak dihitung dalam pertumbuhan ekonomi.

Mahbub Ul-Haq, seorang ekonom kawakan Pakistan, pernah menyesali dukungan bulat yang pernah diberikannya terhadap hegomoni pembangunan ekonomi yang fanatik terhadap paradigma pembangunan (The Poverty Curtain, 1976). Orientasi pembangunan terhadap sisi pertumbuhan tidak menawarkan solusi bagi pemerataan, namun justru menurunkan kualitas lingkungan hidup, penguatan status quo serta pemeliharaan sistem politik massa mengambang (floating mass policy). Pendapat ini dikemukakan Ul Haq jauh sebelum Putaran Uruguay, namun sebenarnya masih relevan hingga saat ini. 

Bagi negara berkembang (developing countries) dan negara maju (developed countries), gross national product (GNP) dan gross domestic product (GDP) adalah indikator utama keberhasilan pembangunan. Pertumbuhan GNP dan GDP di berbagai negara menjadi dasar alasan optimisme tentang pembangunan di negara tersebut. Padahal GNP dan GDP bukanlah satuan-satuan hitungan yang sempurna yang mencerminkan secara akurat tingkat pertumbuhan ekonomi apa adanya. Perhitungan GNP dan GDP telah mengesampingkan biaya eksternalitas, biaya sosial dan biaya masa depan.  

Faktor kerusakan lingkungan, depresi sumber daya alam dan degradasi kualitas kesehatan telah diabaikan. Padahal penyusutan kualitas lingkungan sangat berpengaruh terhadap keseimbangan produksi dalam jangka panjang. Biaya sosial terkait dengan dampak akibat pembangunan yang terlalu mengedepankan pertumbuhan tanpa pemerataan. Akibatnya akan timbul ‘masyarakat marjinal’ secara kesejahteraan. Masyarakat marjinal tersebut akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Dalam jangka panjang, hal ini mirip dengan ‘ seleksi alam’, yaitu tersingkirnya ‘masyarakat marjinal’ untuk menikmati hasil pembangunan. Kondisi ini memaksa mereka kehilangan kesempatan (opportunity) untuk hidup lebih baik dan membuat daya produksi makin menurun dalam jangka panjang.

Willem Hogendijk juga mengibaratkan bahwa bumi kita saat ini ibarat sebuah kereta api yang sedang melaju kencang menuju jurang. Ketersediaan sumber daya alam yang makin menipis dan kemampuan alam makin menurun dalam memberikan supply kepada manusia. Pertumbuhan ekonomi yang seakan tanpa batas, berawal dari rasionalitas yang tertanam erat sejak manusia mengenal ilmu ekonomi. Dalil optimalisasi hasil dengan biaya minimal telah dipraktikkan hampir seluruh umat manusia sehingga terbentuk persepsi dan tindakan memproduksi secara massal.

Dalam kenyataannya, mereka yang mengaku menganut paham ‘biaya minimal’ tidaklah benar-benar rasional. Mereka telah membebankan tagihan biaya ekternalitas kepada generasi berikut, yaitu anak dan cucu mereka. Sistem moneter yang didukung dengan adanya suku bunga (interest rate) telah menyebabkan begitu banyak manusia menyalakan cerobong asap pabrik untuk berproduksi sepanjang waktu. Manusia didorong untuk terus bekerja dan terus bekerja dengan kapasitas maksimal.

Tentu saja implikasi biaya eksternalitas adalah kerusakan lingkungan hidup. Dalam berbagai kasus nyata, kerusakan lingkungan hidup seolah-olah dapat ditutupi dengan peran tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) dan peraturan pemerintah. Namun, sesungguhnya peran CSR khususnya pada perbaikan lingkungan baru sebatas berada di tahapan finansial. Demikian juga dengan peraturan pemerintah yang baru sebatas berada di tahapan wacana yang tertulis diatas kertas namun minim dalam realisasinya.

Dalam jangka panjang, biaya eksternalitas harus dibayar dengan kemerosotan kualitas kehidupan generasi masa depan. Sebagai contoh, fakta menunjukkan bahwa pencemaran lingkungan hidup yang dilakukan oleh perusahaan pertambangan, telah menurunkan kualitas kehidupan, terutama dari segi kesehatan dan budaya. Kerusakan dalam jangka panjang adalah munculnya ‘penyakit aneh’, bencana alam, pemanasan global, rusaknya ekosistem global dan perubahan iklim yang aneh.

Bagaimana dengan Indonesia? Semangat pembangunan ekonomi telah menyebabkan kerusakan lingkungan. Degradasi kerusakan lingkungan yang lebih cepat daripada regenerasi kualitas lingkungan menyebabkan kualitas kehidupan makin menurun. Menyusutnya jumlah area hutan di Indonesia hanya salah satu contoh kerakusan pembangunan ekonomi yang hanya mengejar produksi maksimal dan keuntungan maksimal. Pulau Kalimantan adalah salah satu contoh tragis keserakahan manusia.

Pulau Kalimantan, dulu dikenal sebagai pulau yang tertutupi oleh hutan, namun sekarang jumlahnya menyusut drastis. Di Indonesia, jumlah luas hutan adalah 99,72 hektar (1999), menyusut menjadi 88,49 hektar (2005) dan menjadi 86,62 hektar (2006).

Mengutip Hogendijk, Indonesia adalah salah satu penumpang dalam kereta yang akan jatuh ke dalam jurang. Diperlukan kesadaran bersama untuk merombak paradigma bahwa jalan yang telah ditempuh adalah salah besar. Liberalisasi perdagangan dan meningkatnya kebutuhan manusia justru akan mempercepat kereta menuju jurang. Sudah saatnya penumpang dalam kereta ‘mengerem’ kereta dan berbalik arah. Dalam realita, sudah saatnya manusia berpikir ulang mereduksi skala produksi dan konsumsi atau men-subsitusi-nya.

Langkah ini tentu saja akan menimbulkan ketidapuasan masyarakat karena kebutuhan mereka tidak terpenuhi. Namun sebenarnya, kebutuhan tersebut cenderung bersifat kebutuhan artifisial dan tersier. Sudah saatnya kita ‘mengerem kereta’ yang sedang melaju kencang menuju jurang. Jika lingkungan masih saja menjadi faktor sampingan, maka isu pemanasan global sebagai kampanye utama, hanya akan menjadi pemanis para pemimpin di dunia.

Add comment October 4, 2007

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 comment June 25, 2007


Categories

Links

Feeds