Posted by: aripmuttaqien | November 15, 2011

Jangan Naik Taxiku S073

Senin, 14 Nov 2011, jam 20.35 di perempatan kuningan

Saya melihat Taxiku nomer S073, lampu menyala, tanda bahwa tidak ada penumpang. Lalu saya buka pintu, begitu masuk sopir bertanya “Mau kemana Pak?”

Saya jawab, “Mau ke Cawang”

Sopir berkata, “Wah, saya ngantuk Pak. Nggak jadi jalan”

Saya jawab, “Jadi gimana, ini jalan atau tidak?”

Sopir menjawab, “Maaf ya Pak, saya ngantuk benar hari ini”

Akhirnya saya pergi keluar dg terpaksa. Padahal saya lagi ngejar kereta di Cawang agar tidak pulang terlalu malam.

 

Kurang ajar benar ini Taxiku S073.

Kalau memang tidak mau mengangkut penumpang, bilang dari awal. Jangan ketika penumpang sudah duduk didalam, sopir bilang bahwa tidak mau mengangkut penumpang.

Posted by: aripmuttaqien | October 13, 2011

Sharing Diet Turunkan Berat

Beberapa kali aku bertemu dengan teman lama. Teman lama disini artinya yang sudah tidak ketemu dalam minimal setahun terakhir. Hampir semua bilang, “Kok tambah kurus?”

“Jadi dulu gemuk banget ya?” begitu pikir dalam hati. Hikmah yang bisa diambil adalah hari ini lebih kurus daripada masa lalu. :) Dan memang terbukti secara empirik (maksudnya nimbang berat badan).

Sekedar informasi, jika dibandingkan dua tahun lalu, berat badan sudah turun 20 kg. Dibandingkan setahun lalu, berat badan sudah turun 10 kg. Memang bukan penurunan yang drastis. Namun penurunan berat dalam jangka waktu panjang dan berkelanjutan.

Bagaimana tips?

Sebelum masuk tips pribadi, mari diskusi beberapa poin penting.

Pertama, diet artinya adalah menjaga pola makan. Diet tidak selalu harus menurunkan berat badan. Diet berarti menjaga pola makan dengan asupan kalori khusus dan bahan makanan khusus. Maka kita mengenal beberapa jenis diet, seperti diet menurunkan berat badan (ini istilah yang sering muncul), diet menaikkan berat badan, dan diet pantangan terhadap makanan tertentu (misal untuk penderita diabetes).

Kedua, berapa berat standar yang seharusnya dimiliki? Salah satu referensi menggunakan rumus hitung BB = (TB – 100) x 90%. TB adalah tinggi badan (satuan cm) dan BB adalah berat badan (satuan kg). Misal tinggi badan (TB) adalah 171 cm, maka BB = (171 – 100) x 90% = 63,9 kg.

Rumus lain yang sering digunakan adalah body mass index (BMI). Jika pernah ikut medical check, biasanya akan tertulis hasil BMI. Rumus BMI = BB : (TB x TB). BB diukur dalam satuan kg dan TB diukur dalam satuan meter (m). Misal berat badan 80 kg dan tinggi badan 170 cm (= 1,7 m), maka BMI = 80 / (1,7 x 1,7) = 27,68.

Bagaimana mengidentifikasi BMI? Patokan yang sering digunakan adalah:

BMI < 18,5 (berat dibawah normal/underweight)

BMI = 18,5 – 24 (berat badan ideal/normal)

BMI = 25 – 29 (kelebihan berat badan/overweight)

BMI > 30 (obesitas)

Saya sendiri lebih sering menggunakan rumus BMI karena simple. Dengan tinggi badan 171 cm, maka berat badan ideal adalah 54 kg – 70 kg. Dengan patokan rumus pertama, berat badan ideal adalah 63,9 kg. Saya lebih suka membuat patokan berat badan ideal, yaitu antara 63 kg – 68 kg. Dan patokan lain yang tidak kalah penting adalah ukuran celana. Kalau sudah melonggar berarti tambah kurus donk, hehehe….

Bagaimana tips yang sudah saya lakukan? Sederhana saja seperti dibawah:

- Pagi hari makan oatmeal atau bubur. Sebagian besar orang bilang makan oatmeal sangat tidak enak. Saya juga bilang gitu. Siapa suruh makan oatmeal doank? Agar terasa lebih enak, oatmeal dicampur dengan berbagai macam rasa, misal coklat, susu vanilla, strawberry, pisang, nanas, selai buah, atau bumbu bakso. Saya jamin rasanya akan beda. Biasanya saya makan oatmeal dengan susu rendah lemak dan nutella. Tentu saja rasanya jadi enak. Biasanya saya makan empat sendok oatmeal di pagi hari. Ini sudah cukup membuat kenyang.

- Minum air putih minimal 2 liter tiap hari. Jangan minum minuman bersoda. Satu kaleng cola mengandung kadar gula tinggi. Kalau makan di restoran fast food, gantilah produk minuman cola dengan air mineral.

- Siang hari makan nasi setengah. Biasanya saya pilih beras merah agar membuat lebih kenyang. Tips yang harus sangat diperhatikan adalah kurangi makan nasi putih. Nasi putih punya gandungan glukosa tinggi dibanding nasi merah. Nasi merah punya kandungan serat lebih bagus daripada nasi putih.

- Perbanyak makan buah dan sayur. Orang akan hidup lebih sehat jika makan buah dan sayur.

- Kurangi cemilan-cemilan makanan industri. Kalau mau ngemil, lebih baik makan buah.

- Hindari makan gorengan. Ganti gorengan dengan makanan direbus atau dikukus.

- Malam hari biasanya saya tidak makan besar. Cukup makan apel. Kalaupun makan besar, biasanya sebelum jam 7 malam.

- Tips diatas saya lakukan dari hari Senin-Jumat, biasanya kalau Sabtu-Minggu adalah hari bebas. Tapi kendalikan kebebasan, jangan kebablasan.

- Sabtu dan Minggu pagi biasanya saya jogging minimal setengah jam. Agar membakar lemak, kita perlu jogging minimal 20 menit. Itu dari literatur yang saya baca.

- Rajin-rajin puasa Senin dan Kamis. Puasa berlatih mengatur pola makan. Puasa adalah sarana efektif untuk mengendalikan ngemil.

- Perbanyak jalan kaki. Tiap hari saya berjalan kaki dari pintu kamar hingga ke stasiun kereta. Lalu dari stasiun tujuan ke tempat pemberhentian bus. Lalu dari tempat halte bus ke kantor. Secara akumulasi, minimal saya jalan kaki 2 kilometer tiap hari. Itu baru dihitung dari kamar ke kantor. Jika ditambah dengan aktivitas lain, minimal 3 kilometer tiap hari. Ini belum termasuk jalan kaki didalam kantor. Intinya adalah perbanyak gerak. Selain itu, di kantor saya berada di lantai 2 yang mengharuskan naik turun tangga. FYI, jalan kaki adalah olahraga minimal yang dapat menyehatkan tubuh.

- Jika memberi produk kemasan, lihat komposisi nutrisi. Hindari makan mi goreng produk industri. Ini bukan promosi buruk ya. Tapi makan gituan terbukti hanya membuat kenyang tapi kalau dosis berlebih tentu saja tidak sehat. Apalagi jika jadi kebiasaan.

- Terakhir, lakukan secara konsisten. Diawal memang terasa berat. Jika terlalu berat jangan lakukan secara drastis. Misal, kurangi makan nasi sedikit demi sedikit. Makan beras merah, diawal terasa tidak ada rasanya. Tapi nanti akan terbiasa. Semua butuh proses, tidak ada hasil instan. Saya lebih pilih cara panjang ketimbang cara instan (misal produk bahan kimia) yang cenderung memberi risiko.

Selamat mencoba!


		        
Posted by: aripmuttaqien | September 3, 2011

Secuil Kisah di Lampung

Pada Idul Fitri 1432 H atau tahun 2011 penanggalan Masehi, aku merayakan di Lampung, tepatnya di Lampung Timur. Tidak ada banyak perubahan ketika aku terakhir berkunjung sekitar 2 tahun yang lalu. Suasana pertama yang aku tangkap adalah panas dan gersang. Dan memang benar, ketika aku bertanya dengan orang sini, mereka mengatakan “Disini sudah lama musim kering kerontang dan sudah lama tidak turun hujan.” Tentu bisa dimaklumi jika tanah menjadi gersang dan berdebu.

Disini bermukim keluarga besar dari pihak ibu. Kakek dan nenek tinggal di Lampung sejak tahun 1953. Mereka adalah satu dari 34 pasangan dalam rombongan transmigrasi dari Pulau Jawa. Saat ini, hanya 2 orang yang masih hidup didunia.

Transmigrasi adalah pemindahan penduduk dari Jawa ke luar Jawa. Kebijakan ini bermula dari politik etis atau politik balas budi di era kolonial Belanda awal abad ke-20 atau akhir abad ke-19. Jauh dari kesan yang digembor-gemborkan pemerintah. Transmigrasi justru adalah pilihan terakhir bagi yang tidak punya pekerjaan. Jika sudah melarat di Jawa dan tidak punya pekerjaan, maka transmigrasi adalah salah satu pilihan sulit. Sungguh tidak mengenakkan memilih transmigrasi.

Pada politik etis, transmigrasi beralih fungsi untuk tenaga kerja murah pada perkebunan diluar Jawa. Kala itu memang perkebunan menjadi primadona bagi kolonial Belanda. Setelah merdeka, citra transmigrasi beralih pada warga negara yang tidak punya pilihan apapun. Transmigrasi berarti “dibuang” ketempat terpencil, pelosok, tidak ada fasilitas, dan “babat alas”.

Saat rombongan transmigrasi datang pada tahun 1953, daerah ini masih hutan belantara. Pohon-pohon besar berusia puluhan tahun. Daerah-daerah tak bertuan. Rawa-rawa tak berpenghuni. Bahkan kerap dikaitkan dengan mistis atau dedemit sebagai penunggu hutan belantara. Sebagai rombongan pendatang, kerapkali mereka “diganggu” teman dari dunia lain.

Tak ada fasilitas apapun disini. Tak ada rumah, toilet, jalan raya, dan listrik. Ketika mereka datang, hanya ada satu jalan tanah selebar 4 meter. Jalan tanah ini hanya bisa dilalui sapi dan gerobak. Saat itu tentu belum ada mesin pembajak sawah, motor, apalagi mobil. Lalu mereka melebarkan jalan. Saat itu tidak ada bayangan seperti apa masa depan. Yang mereka lakukan hanya “babat alas” dan mengubah hutan belantara menjadi lebih nyaman untuk ditinggali.

Tanah Sumatera tidaklah terlalu subur dibandingkan dengan tanah Jawa. Hasil pertanian tidak sebagus di Jawa. Bagi masyarakat agraris, tentu menjadi masalah besar karena hidup mereka tergantung pada hasil pertanian. Bagi rombongan transmigran, mereka harus bersusah payah menyesuaikan diri dari “lingkungan manja” yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma dalam bentuk kesuburan tanah di Pulau Jawa.

Mereka melakukan apa yang bisa dilakukan. Mereka menebang hutan belantara menjadi hunian. Mereka membangun rumah secara bergotong royong. Mereka membuat ruas jalan baru. Bahkan mereka menggali tanah keras untuk dibuat menjadi aliran sungai. Ya! Sebuah sungai! Bagaimana mereka membuat sungai? Tahun 1958, mereka menggali sepanjang belasan kilometer dari aliran sungai utama ke arah perkampungan transmigran. Selanjutnya, irigasi ke area sawah menjadi lebih lancar.

Sebuah pasar yang terdekat terletak sekitar 5 kilometer dari perkampungan transmigran. Pasar itu tidaklah komplet. Untuk membeli kebutuhan yang lebih lengkap, mau tidak mau harus pergi ke kota terdekat.

Daerah ini terpelosok. Mereka terisolasi dari dunia luar. Untuk menuju kota terdekat, mereka harus menempuh 30 kilometer. Jangan dibayangkan kondisi saat itu sama dengan saat ini. Tidak ada jalan raya beraspal sepanjang 30 kilometer. Tak ada mobil angkutan umum. Tak ada sepeda motor. Jika mereka butuh keperluan rumah tangga yang lebih komplet, mereka harus jalan kaki sepanjang 30 kilometer selama setengah hari atau 12 jam. Jangan pula membayangkan jalan kaki dengan melewati perumahan penduduk. Mereka harus menempuh jalan setapak melewati hutan belantara, tanah kosong, dan pinggir sungai. Kadang mereka harus bermalam di kecamatan terdekat sebelum melanjutkan perjalanan ke kota. Ini dilakukan ketika hari sudah malam. Baru ketika mendekati daerah kota, mereka akan menemukan ruas jalan yang lebih manusiawi.

Sebagai konsekuensi dari negara yang baru merdeka, perekonomian masih belum stabil. Produksi masih rendah. Harga bahan kebutuhan pokok masih sangat mahal. Daya beli masyarakat masih rendah. Saat itu adalah “jaman susah”. Begitu kosakata yang sering diungkapkan untuk menggambarkan kondisi republik yang masih tertatih-tatih.

Untuk membeli baju lengan pendek, seorang petani perlu menjual 1 kuintal padi hasil panen. Harga baju untuk wanita lebih mahal lagi. Sebuah satu set baju wanita terdiri dari baju atas dan jarik (kain selendang) butuh sekitar 3 kuintal padi.

Fasilitas pendidikan? Ini adalah pikiran yang terlalu ideal. Tidak ada bangunan Sekolah Dasar pada saat itu. Sampai akhirnya, seorang penduduk merelakan rumah sebagai tempat sekolah sementara bagi anak-anak rombongan transmigran. Seorang guru bantu didatangkan dari kota terdekat untuk mengajar. Paling tidak kebutuhan pendidikan dasar sudah terfasilitasi. Soal kualitas? Tidak usah dibicarakan saat itu.

Komunikasi dengan dunia luar benar-benar tersendat. Untuk urusan surat menyurat butuh waktu berhari-hari. Maklum, tukang pos pengantar surat butuh usaha ekstra keras untuk melewati hutan belantara. Berbeda dengan saat ini, kita cukup menekan nomor di handphone, dan dalam sekejap sudah bisa bercakap-cakap dengan orang lain.

Pemerintah memberi bantuan dalam bentuk lahan dan uang. Tiap keluarga mendapat jatah 2 hektar tanah untuk digarap dan sebuah wilayah untuk rumah hunian. Tapi semua masih tanah kosong dan belum bisa langsung digunakan. Mereka harus mengolah dari nol. Hutan belantara diubah menjadi areal sawah. Mereka menebang hutan. Kayu digunakan untuk membangun rumah. Mereka mencangkul sawah. Sapi digunakan untuk membantu membajak sawah. Baru selanjutnya areal sawah bisa ditanami.

Berpuluh-puluh tahun kemudian areal transmigran berkembang pesat. Area ini bernama Kabupaten Lampung Timur, Kecamatan Purbolinggo. Kecamatan Purbolinggo dibagi menjadi beberapa desa dengan nama berdasarkan abjad. Ini dia nama desa:

A: Taman Asri

B: Taman Bugo

C: Taman Cari

D: Tambah Dadi

E: Taman Endah

F: Taman Fajar

G: Tegal Gondo

H: Toto Harjo

I: Tanjung Intan

J: Tegal Joso

K: Tanjung Kesumo

L: Tambah Luhur

M: Toto Mulyo

N: Taman Negeri

O: Tegal Ombo

P: Toto Projo

Q: Tanjung Qencono

S: Tambah Subur

T: Tanjung Tirto

Beberapa akhir tahun ini, Kecamatan Purbolinggo dipecah menjadi dua kecamatan, alias pemekaran wilayah, yaitu menjadi Kecamatan Purbolinggo dan Kecamatan Way Bungur. Desa dari Toto Mulyo hingga Tanjung Tirto dimekarkan menjadi Kecamatan Way Bungur.

Apa yang menarik dari nama desa diatas? Semua nama desa berbau bahasa Jawa. Tidak mengherankan karena mayoritas penduduk adalah transmigran. Banyak nama-nama daerah di Lampung yang berbau Jawa dan menyalin nama daerah di Jawa. Misalnya, Kecamatan Purbalingga seperti yang aku ceritakan. Lalu ada pula Pekalongan, sebuah kecamatan yang berbatasan dengan Purbolinggo yang kebetulan adalah nama sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Ada pula nama lain seperti Sukadana, Bumi Jawa, Jepara (sebuah kecamatan), Pringsewu (sebuah kabupaten di Lampung bagian selatan), Bandar Surabaya, Kalirejo, Sukoharjo (tentu karena yang memberi nama banyak yang berasal dari Sukoharjo, sebuah kabupaten di Jawa Tengah), Sumberejo, dan lain-lain.

Lampung adalah daerah pertama yang jadi sasaran daerah transmigrasi sejak era kolonial Belanda. Jika melihat komposisi penduduk saat ini, terdiri dari 7,6 juta jiwa, yaitu 62 % suku Jawa, 25 % suku Lampung, dan 9 % suku Sunda. Tidaklah mengherankan bahasa Jawa sudah menjadi bahasa sehari-hari di Lampung.

Inilah secuil kisah selama lebaran di Lampung. Memang tidak menceritakan kisah khusus tentang lebaran. Namun ketika mampir ke Lampung kali ini, aku teringat dengan transmigrasi, karena kebetulan aku terlahir dari keluarga transmigran. Dan bahwa transmigrasi bukanlah hal mudah bagi pelaku. Transmigrasi, bagi sudut pandang pelaku, adalah pilihan terakhir yang berarti membangun dari nol. Namun inilah yang justru membentuk mental menjadi lebih tangguh.

Posted by: aripmuttaqien | August 25, 2011

Mudik 2011

Mudik tahun 2011 agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Tahun ini aku memilih naik mobil dengan beberapa teman. Dengan Mercy tahun 1987, kami bertiga dalam satu mobil memilih lewat jalur selatan, berangkat pada Rabu, 24 Agustus, jam 9 malam.

Ini diluar rencana. Seharusnya aku naik kereta api Bangunkarta, Jumat, 26 Agustus, jam 16.00 dari Sta Pasar Senen.

Berhubung seorang teman menawarkan untuk naik mobil, aku menyambut ajakan itu. Kalau dihitung-hitung, ongkos yang dikeluarkan jauh lebih murah dibanding naik kereta api. Tentu saja kelas kereta api yang aku maksud adalah kelas eksekutif.

Rabu sore hari aku masih berbuka di kantor. Setelah shalat magrib aku langsung pulang naik komuter, menggunakan moda transportasi yang biasa digunakan tiap hari. Tak ada yang istimewa dengan komuter. Alhamdulillah hanya telat dua menit dari jadwal 19.13.

Kami bertiga berangkat melewati tol menuju arah Cikampek, lanjut ke arah Cileunyi. Keluar dari tol, ternyata jalan masih lancar. Maklum karena belum melewati puncak arus mudik lebaran. Puncak arus mudik lebaran diperkirakan akan mulai meningkat pada Jumat, 26 Agustus.

Dari Cileunyi, perjalanan dilanjutkan ke Nagrek. Nagrek yang dalam arus puncak lebaran selalu macet. Kali ini jalanan masih lengang. Ini karena kami memilih berangkat hari Rabu malam, dan ketika melewati Nagrek, waktu menunjukkan jam 1 dini hari.

Secara berturut-turut, rute perjalanan yang kami lalui adalah:

Nagrek – Sukamerang – Malongbong – Ciawai – Cikoneng – Ciamis – Cisaga – Banjar – Wanajera – Majenang.

Di daerah Majeng kami berhenti untuk makan sahur dan shalat subuh. Secara geografis, Majeng sudah masuk wilayah Jawa Tengah. Namun bahasa yang digunakan masih bahasa Sunda. Ini terlihat dari dialek masyarakat, makanan sahur, dan suara pengeras sound system masjid menjelang shalat subuh.

Setelah shalat subuh, yaitu jam 5 pagi, perjalanan dilanjutkan dengan rute berikut:

Karangpucung – Wangon – Rawalo – Buntu – Sumpiuh – Tambak – Gombong – Karanganyar – Kebumen – Kutoarjo – Purworejo – Temon.

Kami berhenti di sebuah SPBU di wilayah Temon. Temon sudah masuk wilayah Wates, Kerajaan Yogyakarta. Sekitar satu jam berhenti untuk istirahat, sikat gigi, cuci muka, dan shalat. Alhamdulillah ada fasilitas hot spot gratis. Cukup takjub juga ada fasilitas internet gratis di sebuah SPBU ditengah sawah. Jika dipikir-pikir secara ekonomis, berapa sih pengguna internet sehingga pemilik SPBU sampai perlu memasang hot spot? Sedangkan di beberapa pusat perbelanjaan mall di Jakarta, konsumen seringkali harus mengeluarkan kocek untuk menikmati fasilitas hot spot.

Praktis, aku menggunakan kesempatan untuk browsing internet. Dan aku sempat chatting dengan seseorang di Jakarta. Berita yang muncul di Kompas adalah tentang Khadaffi, kasus Nazaruddin (yang membuatku bosan dan muak), hingga mudik lebaran.

SPBU ini cukup besar, berada di tengah areal sawah, dan yang cukup menarik adalah tingkat kebersihan. Aku sempat mampir ke toilet dan cukup senang dengan fasilitas toilet dengan tingkat kebersihan diatas rata-rata kebersihan toilet pom bensin. Kalau seperti ini, kupikir konsumen tak segan-segan untuk mengeluarkan uang receh untuk kotak amal kebersihan. Bahkan aku sampai nge-twit disini.

Musholla di SPBU juga terlihat bersih dengan seorang wanita petugas khusus yang sedang membersihkannya. Singkat kata, cukup menyenangkan untuk istirahat di SPBU ini. Dan kalau memang suatu saat lewat jalur ini, aku akan mampir kesini lagi.

Perjalanan kami lanjutkan dengan ke arah Wates dan Yogyakarta dengan durasi waktu sekitar 40 menit. Di Yogyakarta, kami mampir ke tempat teman untuk istirahat.

Dan hingga tulisan ini diketik, aku masih berada di tempat temanku, untuk berencana melanjutkan perjalanan ke Madiun sekitar jam 9.

Krapyak, Yogyakarta, 25 Agustus 2011, 18.57

Posted by: aripmuttaqien | August 21, 2011

Iklan Kompas, Tulisan, dan Hutang yang Belum Terbayar

Maret 2005

Pagi ini tidak sengaja aku melihat iklan di Kompas. Sebuah iklan tiga kolom koran berjudul “Lomba Karya Tulis Kemiskinan LP3ES”. Selanjutnya tertulis hadiah 10 juta untuk juara pertama. Hadiah untuk seterusnya kalau tidak salah 7 juta dan 5 juta. Dan hadiah hiburan masing-masing 1 juta untuk yang berhasil masuk 10 besar.

Aku membaca iklan Kompas dengan ringan saja. Seperti membaca iklan yang lewat. Dan koran itu aku tinggalkan begitu saja.

 

April 2005

Aku sedang mampir ke Asrama Universitas Indonesia karena ingin berkunjung ke tempat teman. Saat ini aku memang sudah tidak tinggal di asrama, namun aku masih sering mampir ke asrama. Seperti biasa, aku ke asrama dengan  naik bus kampus. Mahasiswa sering menyebut dengan istilah bus kuning.

Bus kampus memasuki area depan asrama UI. Aku turun dari bus kampus. Ketika baru berjalan sekitar 10 langkah menuju asrama, aku mendengar sekilas percakapan antara dua orang mahasiswa. Dua orang mahasiswa itu berjalan berlawanan arah denganku. Mereka hendak menuju bus kampus.

“Hai, kamu sudah baca pengumuman tentang Lomba Karya Tulis LP3ES?” tanya seorang mahasiswa kepada temannya. “Belum, kenapa?” jawab rekannya. “Ini ada lomba karya tulis, lumayan, hadiahnya 10 juta kalau menang. Perlu dicoba ini, tadi barusan cari data di internet,” jawabnya.

Percakapan yang hanya sebentar antara dua orang mahasiswa telah membukakan pikiranku.

Mengapa aku tidak mencoba saja? Toh, kalau kalah aku mendapat pengalaman. Tidak ada salahnya mencoba. Kalau menang, lumayan bisa dapat hadiah. Tapi saat ini aku tidak berpikir menang atau kalah.

Akhirnya, aku pergi ke warnet di asrama untuk mencari data pendukung tulisan. Di asrama memang ada dua warnet. Cukup lama, sekitar dua hingga tiga jam. Berbekal flash disk 128 MB yang sudah hampir rusak, semua data aku pindahkan dalam device. Disini aku mendapat banyak data tambahan dan contoh tulisan.

Saat ini aku belum pernah menulis serius. Memang ada tulisan yang pernah dimuat di koran, tapi itu jauh dari kesan tulisan serius karena lebih bersifat tulisan opini.

 

Mei 2005

Aku sedang mengetik tulisan di kamar teman. Komputer yang aku pakai adalah komputer salah satu rekan satu kontrakan. Tiba-tiba seorang temanku masuk ke kamar. Dia melihat apa yang aku lakukan.

“Sedang ngapain?” tanya dia singkat. “Lagi bikin tulisan, ada lomba karya tulis, mau coba ngirim, siapa tahu dapat rezeki,” jawabku singkat sambil menunjukkan iklan di Kompas yang aku gunting.

Dia melihat sejenak. “Oke, ntar kalau menang, traktir ya!” katanya mantap.

Tanpa berpikir aku segera menjawab, “Oke, gampang deh, ntar di traktir makan sepuasnya.” Aku memang tidak berpikir untuk menang karena baru pertama mengirimkan tulisan. “Oke, semangat bikin tulisan, ntar gue tunggu traktiran,” jawabnya. Aku pun meneruskan proses penulisan.

Sebagai anak dari Fakultas Teknik, kami tidak dibekali kemampuan menulis. Tidak seperti mahasiswa FISIP yang sering mendapat tugas paper, mahasiswa teknik jarang sekali mendapat tugas paper. Dan tentu saja tugas ke arah kuantitatif, bukan verbal yang membutuhkan banyak kemampuan berbahasa dan menulis.

Apalagi tema tulisan adalah tentang kemiskinan, yang lebih bersifat sosial daripada teknik. Ini kan bukan pekerjaan mahasiswa teknik? Ini yang pertama kali melintas di otakku. Tapi, tidak ada salahnya untuk dicoba.

Inilah yang membuatku kesulitan dalam pertama kali menulis. Apa yang aku lakukan? Pertama, aku membuat struktur. Structurized, aku membuat kerangka tulisan untuk memudahkan penulisan. Selanjutnya, aku menulis untuk “menjahit” kerangka agar tersambung. Disini aku menambahkan data pendukung, seperti jumlah penduduk miskin, persentase penduduk miskin, peta kemiskinan, dan sebagainya.

Diujung tulisan, aku memberikan solusi general. Karena aku tidak terlalu menguasai bidang yang aku tulis, jadi wajar jika solusi yang aku berikan bersifat general.

Dan yang pasti, aku terus saja menulis tanpa peduli dengan banyak aturan. Terus menulis dan terus menulis. Masalah hasil dilihat saja nanti.

Sekitar akhir Mei, tulisan sudah selesai. Batas maksimal adalah 25 halaman. Dan aku membutuhkan 25 halaman untuk menuangkan ide. Dan yang lebih parah, tulisan ini harus di fotokopi sebanyak 10 eksemplar dan dikirim ke kantor LP3ES di daerah Slipi. Cukup berat saat aku timbang. Aku berpikir berapa ongkos yang harus aku keluarkan jika dikirimkan via pos. Maklum, mahasiswa harus memperhitungkan dompet.

Setelah berpikir, akhirnya aku putuskan untuk mengirimkan secara langsung. Semua tulisan dimasukkan dalam amplop coklat, lalu aku naik bus jurusan Depok Grogol (P54) dengan ongkos Rp 3000.

Tiba di kantor LP3ES, setelah bertanya pada satpam, akhirnya aku memasuki ruangan khusus. Ruangan ini mungkin dipakai untuk mengurusi lomba karya tulis. Begitu pikirku. Disana aku diterima oleh seorang bapak berusia sekitar 50an tahun. Ketika aku masuk ke ruangannya, dia terlihat asyik menikmati rokok.

Aku masuk dan menyapa, “Selamat sore, saya mau mengirimkan tulisan untuk lomba karya tulis LP3ES,”

Bapak itu menjawab, “Ohya, silakan masuk. Silakan duduk. Dari mana?” Akupun duduk dan sedikit bercerita kalau aku adalah mahasiswa UI yang tinggal di Depok. Bapak itu mengambil gunting dan menggunting amplop coklat, lalu mengeluarkan berkas tulisan.

“Jadi saya terima tulisan yang saudara kirimkan,” kata bapak itu.

“Iya, terima kasih Pak. Karena mendekati deadline, saya putuskan untuk mengirim langsung ke kantor LP3ES. Soalnya kalau dikirim via pos, bisa mahal di ongkos,” jawabku.

“Iya, saudara benar. Kalau dihitung harus mengirim 10 eksemplar, datang kesini langsung bisa sangat mengurangi ongkos,” jawab bapak itu.

Setelah urusan selesai, aku berpamitan keluar. Aku pulang ke Depok dengan naik bus P54.

 

Agustus 2005

Aku sedang naik bus kampus. Ketika bus kampus lewat didepan Fakultas Hukum, tiba-tiba handphone berbunyi.

“Halo, kami dari LP3ES ingin mengabarkan bahwa tulisan Anda masuk dalam 10 besar terbaik. Kami mengundang Anda untuk presentasi didepan tim juri,” kata seorang laki-laki dengan lancar.

“Ohya, dimana dan kapan presentasi?” aku masih setengah tidak percaya dengan kabar yang aku dengar.

“Tempat presentasi di daerah Slipi. Kami akan mengirimkan undangan.” Jawab laki-laki tersebut.

Antara setengah percaya atau tidak percaya, aku masih berpikir tentang kabar yang baru saja aku dengar. Alhamdulillah, setidaknya aku mendapatkan 1 juta rupiah. Jumlah yang terbilang besar untuk ukuran mahasiswa saat ini. Lumayan, uang itu akan sangat membantu dompet selama beberapa bulan kedepan.

Saat ini aku tidak berpikir untuk mentargetkan diri sebagai pemenang. Sudah masuk 10 besar saja aku sangat bersyukur.

 

Awal September 2005

Aku sedang berada di sebuah hotel di daerah Slipi. Panitia LP3ES mengundang seluruh penulis yang masuk babak final. Tulisan yang masuk ke babak final adalah 20 tulisan, yaitu 10 dari kategori mahasiswa dan 10 dari kategori umum. Tentu saja aku masuk dari kategori mahasiswa. Mahasiswa yang lain berasal dari FISIP UI, Univ Jember, Univ Negeri Yogyakarta, dan lain-lain.

Ini adalah hari ketiga kami berada di hotel. Hari pertama, kami tiba malam hari untuk check in di hotel. Hari kedua adalah presentasi untuk kategori umum. Hari ketiga adalah presentasi untuk kategori mahasiswa.

Ohya, tempat presentasi bukan di hotel, namun di kantor Kompas di Palmerah. Hari kedua, aku bangun terlambat sehingga tidak sempat ikut rombongan berangkat bersama-sama ke kantor Kompas. Akhirnya aku berangkat ke kantor Kompas dengan angkot. Dan konyol, aku sempat nyasar. Bukan Palmerah yang aku tuju, tapi aku malah ke arah Kebayoran Lama. Akhirnya aku harus kembali ke arah Slipi. Setelah nyasar selama kurang lebih setengah jam, akhirnya aku bisa  menemukan kantor Kompas, yang ternyata tidak jauh dari hotel tempat kami menginap. Memang cukup konyol untuk orang yang tidak tahu jalan.

Untung saja ini adalah hari kedua. Dan aku harus presentasi di hari ketiga. Jadi efek keterlambatan ini sebenarnya tidak berpengaruh pada presentasiku. Hari kedua, aku hanya melihat 10 orang kategori umum presentasi didepan. Semua membawa konsep tulisan dengan gaya masing-masing. Dan aku belajar dari hari kedua tentang bagaimana mereka presentasi dan bagaimana dewan juri melakukan penilaian.

Hari ketiga, saatnya aku presentasi. Alhamdulillah aku berhasil presentasi dengan lancar selama 20 menit (menurutku J). Ketika masuk babak tanya jawab dengan dewan juri, aku bisa menjawab dengan tenang. Bahkan ada seorang dewan juri yang mendiskusikan buku John Perkins, yang berjudul Economic Hitman. Buku ini cukup ngetrend pada saat ini. Tanya jawab berlangsung sekitar 15 menit.

Di akhir acara prsentasi hari ketiga, dewan juri memberikan beberapa catatan secara umum tentang seluruh tulisan peserta. Pemenang akan diumumkan akhir September di harian Kompas. Begitu kata mereka. Aku sendiri tidak terlalu yakin untuk bisa menjadi pememang pertama. Jika melihat seluruh presentasi, aku perkirakan bisa masuk dalam tiga besar. Kalau memang masuk ke tiga besar, setidaknya aku bisa mendapat tambahan hadiah. Itu saja pikiranku.

Dari acara ini, kami saling berkenalan antara peserta. Kami bertukar nomer handphone dan alamat email. Setidaknya aku mendapat teman-teman baru dari berbagai daerah.

 

Akhir September 2005

Pagi ini aku mendapat SMS dari seorang rekan yang aku temui di babak final lomba karya tulis. Dia tinggal di Bandung dan menulis pesan singkat, “Arip, selamat atas juara pertama lomba LP3ES”

Dug…

Aku masih tidak percaya membaca SMS yang baru masuk. Kupikir orang ini bercanda, aku malah membalas SMS, “Dimana info tsb? Saya belum baca koran hari ini.”

Tak berapa lama, ada SMS masuk “Coba buka Kompas halaman 10. Disitu ada iklan LP3ES”.

15 menit kemudian aku sudah memegang Kompas. Dan aku melihat dengan mata kepala sendiri:

Lomba Karya Tulis Kemiskinan

Yayasan Damandiri dan LP3ES

Juara Pertama Kategori Mahasiswa: Arip Muttaqien.

Judul tulisan “Paradigma Baru Pemberantasan Kemiskinan: Rekonstruksi Arah Pembangunan Menuju Masyarakat yang Berkeadilan, Terbebaskan, dan Demokratis”

 

Alhamdulillah, aku bersyukur atas rezeki yang tidak terduga ini. Tak berapa lama, aku sudah berada di warung telepon (wartel) untuk memberi kabar bahagia.

 

21 Agustus 2011

Aku sedang berada didepan laptop dan menulis kisah yang terjadi 6 tahun lalu. Memang sebuah kisah kecil. Namun kisah ini berarti untuk diriku. Setelah peristiwa itu, aku jadi rajin menulis. Dan alhamdulillah, banyak penghargaan dari berbagai tulisan.

Setelah kejadian itu, kemampuan menulis meningkat dengan pesat karena aku selalu mencoba dan mencoba. Banyak sekali manfaat yang aku peroleh. Pertama, tentu saja kemampuan menulis bisa meningkat pesat. Efek lain, aku tidak pernah kesulitan jika mendapat tugas paper dan skripsiku adalah skripsi selesai paling cepat di angkatan kuliah. Kedua, menambah pundi-pundi tabungan. Menulis bisa memberikan pendapatan jika dilakukan dengan serius. Dan aku menikmati hal ini selama bertahun-tahun. Ketiga, menambah teman. Dari berbagai lomba tulisan, aku mendapat banyak kenalan dari berbagai universitas dan wilayah. Keempat, melatih daya analisis. Menulis bisa melatih untuk menganalisis dan menyusun kepingan-kepingan data berserakan.

Pertengahan tahun 2009 aku berangkat ke Prancis untuk kuliah dengan beasiswa dari Kementrian Luar Negeri Prancis. Kemampuan menulis mempermudah urusan mencari beasiswa. Semua beasiswa pasti mensyaratkan motivation letter, statetement of purpose, dan sejenisnya. Tentu agak sulit bagi yang tidak terbiasa menulis. Dengan kemampuan menulis yang meningkat pesat, alhamdulillah proses beasiswa bisa lebih lancar. Jika aku tidak menulis sejak tahun 2005, bisa jadi aku tidak akan berangkat ke Prancis.

Memang, sebuah peristiwa kecil baru akan terasa hikmah di masa depan. Terkadang kita barus sadar hikmah setelah sekian lama berlalu. Saat ini, sebuah peristiwa kecil mungkin akan dianggap sepele. Tapi tunggu dulu, peristiwa kecil ini bisa mengubah “arah perjalanan” hidup.

Menulis kisah masa lalu seperti menyusun kepingan mozaik yang berserakan. Memang menarik melakukan refleksi. Di masa depan, kisah reflektif bisa menjadi semangat untuk selalu berbuat yang terbaik.

Tentang lomba karya tulis LP3ES, aku masih berhutang untuk mentraktir seorang teman. Bahkan sudah berlalu enam tahun dan aku masih berhutang. Tapi aku masih ingat dengan hutang. Dan tentu saja akan membayar lunas hutang.

Tunggu, aku tak ingin membayar hutang di Jakarta. Suatu saat aku akan membayar lunas hutang dengan mentraktir di Paris, entah berapa tahun lagi ketika aku kembali lagi ke Eropa untuk studi lanjut. Aku berniat akan menyambutnya ketika dia berkunjung ke Eropa.

Tapi aku yakin. Dan aku selalu yakin. Bukankah semua dimulai dari keyakinan? Keyakinan dan optimisme akan memberi energi positif yang menuntun ke arah cita-cita. Semua berawal dari mimpi. Beranilah untuk bermimpi besar. Dan yang lebih penting, berani mewujudkan mimpi menjadi kenyataan.

Bismillah!

 

Depok, 21 Agustus 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted by: aripmuttaqien | July 28, 2011

Dunia Islam: Berhentilah (Hanya) Menengok Masa Lalu

Berbicara tentang dunia Islam, dengan populasi 21 % – 23 % penduduk dunia, Islam jadi agama terbesar kedua didunia. Bahkan Islam tercatat sebagai agama dengan pertumbuhan tertinggi memasuki abad ke-21. Tentu saja disumbang oleh pertumbuhan populasi yang lebih tinggi dari rata-rata dunia.

Tak ada yang meragukan bahwa Islam telah menorehkan tinta emas peradaban (Islamic Golden Age). Kejayaan dimulai dari abad ke-8 hingga abad ke-13. Pada masa ini, filosof, ilmuwan, dan teknokrat Islam memberi sumbangsih luar biasa. Wilayah kejayaan Islam membentang dari jazirah Persia, Arab, Afrika Utara, bahkan hingga Spanyol bagian selatan. Sumbangsih dibidang kesehatan, arsitektur, ilmu bintang, hingga pelayaran telah dicatat sebagai perjalan penting peradaban dunia.

Pedagang Islam juga turut berpatisipasi dalam perdagangan. Merujuk sejarah, hingga abad ke-15, Produk Domesti Bruto (PDB) global didominasi oleh China dan India (Angus Madison, Contours of the World Economy). Sesungguhnya dominasi China dan India tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Islam. India pernah diperintah oleh dinasti Islam hingga abad ke-16. Pedagang China punya hubungan kuat dengan pedagang Muslim pada abad pertengahan. Muslim di China mulai memberi dampak besar bagi perekonomian dan ekspor/impor perdagangan sejak masa Dinasti Song (960 – 1279). Kejayaan ini dilanjutkan di masa Dinasti Yuan (1279 – 1368) dan Dinasti Ming (1368 – 1644).

Perubahan besar adalah ketika kolonialisasi oleh negara-negara Eropa Barat. Sesaat ketika kejayaan Islam berakhir, jarum pendulum berganti arah. Secara konsisten, dominasi China dan India menurun dan digantikan oleh dominasi Barat. Perdagangan dikuasai oleh Barat. Demikian pula dengan ilmu pengetahuan. Ibarat dua mata kunci yang tidak bisa dipisahkan. Siapa yang menguasai ilmu pengetahun, maka bisa menjadi penguasa perekonomian.

Bagaimana dengan kondisi hari ini? Dominasi perekonomian Barat memang makin turun seiring dengan kebangkitan Asia (China, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan India). Namun China dan India hari ini berbeda dengan China dan India di abad kejayaan Islam. Islam tidak lagi mendominasi sistem di China dan India.

Bagaimana dengan dunia Islam? Fakta menunjukkan bahwa ummat Islam masih tertinggal diberbagai bidang. 57 negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) memiliki PDB sebesar US $ 4,05 trilyun, atau kurang dari 80 % PDB Jepang. 17 dari 48 negara terbelakang (least developed countries) adalah negara Muslim. Ranking index pembangunan manusia pada negara dominasi Muslim juga tertinggal dibandingkan negara non Muslim. Negara-negara Muslim berada di kelompok negara berkembang Jika merujuk pada karakter kejujuran dengan ukuran perilaku korupsi, ranking rata-rata negara Islam adalah 116, dengan ranking tertinggi adalah Qatar (ranking 19) dan terendah adalah Somalia (ranking 178).

Bagaimana dengan implementasi nilai-nilai Islam? Penelitian yang dilakukan Scheherazade Rehman dan Hossein Aksari dalam Economic Islamity Index (2010) menegaskan bahwa “self-declared Islamic countries have not by-and-large adhered to Islamic principles”. Bahkan ranking rata-rata negara Islam lebih rendah dari negara OECD (Organization for Economic Co-Operation and Development) yang notabene-nya negara non Muslim. Bukan indikator “formalitas Islam” yang digunakan, namun indikator lain yang “lebih membumi”, seperti kebebasan aktivitas ekonomi, keadilan dalam aspek perekonomian, akses ke pekerjaan layak dan penciptaan lapangan kerja, budget untuk pendidikan tinggi, kemiskinan, distribusi kesejahteraan, infrastruktur kesejateraan sosial, tingkat investasi, tingkat tabungan masyarakat, standar moral masyarakat, sistem finansial Islam, PDB, hutang luar negeri, dan perlindungan terhadap lingkungan hidup. Indikator tersebut tentu “lebih aplikatif” daripada hanya “formalisasi syariat Islam” dalam tataran kenegaraan.

Alih-alih membangun kesejahteraan, sebagian dari kita masih terjebak pada “formalitas syariah Islam”, namun lupa berpikir bagaimana membangun masyarakat Islam yang lebih sejahtera. Sebagian dari kita masih suka terjebak dengan historia masa lalu. Mereka terlalu senang mengenang dan membanggakan era kejayaan Islam, sembari menyesali runtuhnya Khalifah Turki Ustmani (1924) yang dianggap sebagai akhir dari sistem khalifah Islamiyah.

Padahal jika mengacu pada masa kejayaan Islam, peranan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu besar. Disinilah yang dilupakan dunia Islam. Kita lupa berpikir, seberapa banyak doktor yang dihasilkan ummat Muslim? Seberapa banyak professor Muslim yang mendapat penghargaan internasional?

Fakta membuktikan bahwa dari 176 ribu doktor lulusan Amerika Serikat tahun 1983 – 2003, separuh dari mereka berasal dari empat negara Asia (China, Taiwan, Korea Selatan, dan India). Era kebangkitan China dan India tidak muncul dari sekejap. Namun muncul dari akumulasi pengetahuan selama puluhan tahun. Sementara itu, jumlah doktor di Indonesia baru sekitar 0,01 % populasi .

Ummat Islam masih suka berdebat dan terjebak kecurigaan berlebihan pada nilai-nilai Barat, perang pemikiran, dan prasangka berlebih dengan Barat. Tengoklah China dan India, mereka aktif belajar ke Barat, menuntut ilmu dari berbagai perguruan tinggi dan perusahaan. Lihatlah apa yang terjadi sekarang. China menorehkan rekor dunia, seperti jembatan terpanjang, kereta api super cepat, jaringan kereta api terpanjang, dan stasiun luar angkasa masa depan. India berhasil membangun pusat teknologi informasi.

Ummat Islam jangan hanya terjebak melihat gemerlap masa lampau. Masa lalu biarlah menjadi sejarah untuk diambil hikmah. Sudah saatnya ummat Islam mempersiapkan diri untuk merebut masa depan. Keberhasilan Barat mengambil alih perdagangan dari Islam adalah karena Barat tidak ragu untuk belajar dari Islam. Barat belajar ilmu pengetahuan dan teknologi dari dunia Islam.

Saat ini, kita harus berpikir untuk belajar dari Barat. Belajar ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki mereka. Keunggulan ummat Islam adalah memiliki panduan nilai-nilai aklaq yang bersumber dari Al Quran dan Al Hadits. Kita tidak hanya butuh nilai agama untuk menguasai dunia. Namun ilmu agama harus dilengkapi dengan penguasaan ilmu pengetahuan.

Sekali lagi, berhentilah menatap masa lalu. Masa lalu hanyalah seonggok catatan sejarah. Mari bermimpi untuk mempersiapkan masa depan. Rebutlah kejayaan yang sekarang dipegang bangsa lain. Dan semua dimulai dari diri kita, yaitu kesadaran diri kita sendiri.

Posted by: aripmuttaqien | July 25, 2011

Bagaimana Menyiasati Kemacetan?

Jakarta adalah kota metropolitan. Ibukota negara dengan aktivitas bisnis dan pemerintahan yang terus hidup selama 24 jam. Aktivitas bisnis memberi sumbangsih nyata bagi kota metropolitan ini, dengan kemacetan lalu lintas luar biasa. Bagi yang tinggal di Jakarta, pasti sudah maklum dengan kondisi kemacetan Jakarta. Apalagi yang tinggal di Jakarta sejak kecil, pasti merasakan perubahan Jakarta dari tahun ke tahun, yang tentunya makin macet.

Buruknya infrastruktur transportasi membuat waktu jadi tidak efektif. Efeknya adalah high cost. Contohnya, berapa jam waktu yang terbuang di jalan. Berapa jumlah bahan bakar terbakar di jalan raya. Berapa jumlah umpatan dan caci maki yang muncul di jalan akibat saling senggol.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk memberi solusi menghilangkan kemacetan. Hanya memberikan solusi mengatasi bete karena macet. Beberapa sesuai dengan pengalaman pribadi. Tiap hari aku naik kereta dari Depok ke Sudirman, lalu naik Kopaja 19 menuju Ratu Plaza.

Time is money. Jangan sampai waktu terbuang percuma di jalanan. Saat ini pemerintah belum mampu menyediakan transportasi yang memuaskan. Daripada kita jadi korban, kita bisa meminimalisir dampak dari diri sendiri. Setidaknya agar waktu tidak habis di jalanan.

Baca buku, biar nambah ilmu

Buku adalah jendela dunia. Tidak salah dengan pepatah ini. Ditengah kemacetan lalu lintas, paling enak memang baca buku. Daripada buang-buang waktu di jalan. Beberapa buku justru kuhabiskan di perjalanan antara Depok Jakarta. Cukup bawa buku atau ebook reader. Yang jelas bawa buku yang ringan. Jangan bawa textbook yang bikin berat. Dalam perjalanan Depok Jakarta aku biasa menghabiskan beberapa lembar halaman buku. Tak terasa, akhirnya banyak buku khatam di perjalanan. Apalagi jika sudah sibuk bekerja, jangan berharap bisa ada waktu luang untuk membaca. Nah, salah satunya, membaca buku di perjalanan bisa dicoba.

Tidur

Terdengar konyol, tapi aku beberapa kali melakukan hal ini, terutama saat perjalanan pulang menuju Depok. Bahkan karena ketiduran, aku pernah terlewat dua stasiun dan terpaksa harus balik lagi. Atau di pagi hari saat kereta penuh, aku bisa tidur sambil berdiri. Sekilas memang tidak nyaman, tapi cukup menyenangkan. Tapi ini sangat jarang dilakukan kecuali jika benar-benar sudah capek.

Ngobrol dengan teman

Ini bisa dilakukan kalau berangkat atau pulang bareng dengan teman. Lama-lama tak akan terasa dan akhirnya sudah sampai tujuan akhir. Tapi kalau sendirian, bisa juga cari kenalan di kereta. hahaha

Update FB dan Twitter

Kalau lagi nunggu naik kereta yang lama, aku bisa update berita via twitter. Hitung-hitung biar nggak ketinggalan berita dan nggak bego kalau ditanya bos. Biasanya orang-orang di kereta juga sibuk dengan device masing-masing sambil baca berita. Kecepatan berita via twitter bisa dihandalkan kok.

BBM-an dan Whats App

Ini sih bisa dilakukan kapan saja, tak harus nunggu macet di jalan. BBM buat sesama BB aja. Walau aku sudah muak dengan BB yang makin lemot. Whats App dengan orang tertentu saja. Tapi aktivitas ini bisa lumayan untuk mengusir kebosanan di jalan.

Belajar, emang bisa?

Ini pernah aku lakukan saat menjelang ujian bahasa Prancis. Dan karena baru sempat belajar menjelang hari-H (kalau mahasiswa menyebut SKS/sistem kebut semalam), akhirnya aku terpaksa harus belajar di kereta sambil berdesakan dengan penumpang lain. Lumayan membuat otak lebih segar saat menghadapi ujian.

Menyiapkan tugas kantor, enggak banget deh

Ini pernah (terpaksa) aku lakukan :) ) karena mengejar deadline. Pernah pula aku buka laptop di kereta sambil mengerjakan tugas. Atau paling mudah aku bawa print out untuk dibaca di jalan. Bukankah sekarang sudah berlaku my office is anywhere?

Mendengarkan musik

Mendengarkan musik bisa membunuh kebosanan di perjalanan. Tinggal masukkan file musik dalam device dan bawa earphone, beres deh.

Baca Al Quran

Tips ini bisa dilakukan bagi yang mengejar khatamul Quran saat ramadhan. Bagi yang sudah bekerja bisa melakukan tips ini. Lumayan, bisa nambah pahala daripada cuci mata :) ) Tinggal bawa Al Quran kecil untuk dibaca di jalan, atau instal ke HP. :)

 

 

 

 

 

 

Posted by: aripmuttaqien | July 14, 2011

Are you an Optimist or a Pessimist?

Pertanyaan diatas sederhana saja. Apakah Anda termasuk orang optimis atau pesimis? Sebuah quote menarik adalah “A pessimist sees the difficulty in every opportunity; an optimist sees the opportunity in every difficulty.” Quote ini berasal dari Winston Churchill.

Jika Anda termasuk sebagai orang optimis, beranilah bermimpi tinggi. Tak ada yang salah dengan mimpi. Tak ada yang melarang seseorang untuk bermimpi. Mari mengingat masa kecil. Ketika kecil, kita sering ditanya, “Apa cita-cita kamu?” Sebagian besar dari kita akan menjawab dengan lantang, “Dokter”. Atau “Pilot”. Ya, memang hanya beberapa profesi favorit bagi anak-anak.

Anak-anak memang optimis. Mereka berani menggantungkan cita-cita setinggi langit. Anak-anak punya imajinasi lebih besar daripada orang dewasa. Anak-anak bisa berpikir tanpa rintangan macam-macam, tanpa berpikir rasional seperti orang dewasa. Namun inilah keunikan anak-anak. Yang patut digarisbawahi adalah “berani bermimpi tinggi”.

Bagaimana dengan orang dewasa? Ketika aku menjadi lebih dewasa, memang lebih berpikir rasional. Aku sendiri merasakan menurunnya keberanian bermimpi “ala anak-anak”. Keberanian bermimpi tanpa mengenal rasa takut. Keberanian bermimpi tanpa takut batas. Keberanian bermimpi tanpa rasionalitas. Namun justru dari mimpi itulah memunculkan semangat untuk terus berjalan. Semangat untuk terus hidup. Dan semangat untuk terus menerjang menggapai langit.

Lambat laun aku makin menyadari perbedaan ini. Dan apa yang mesti dilakukan dengan kedewasaan. Tidak ada yang masalah bagi seseorang untuk bermimpi setinggi langit. Selanjutnya, yang paling penting adalah bagaimana merealisasikan mimpi. Mimpi yang hanya sekedar mimpi tanpa realisasi tentu jadi catatan angan-angan saja. Mimpi yang bisa direalisasikan jadi kenyataan tentu akan jadi kebanggaan.

Seorang yang lebih dewasa, sejatinya menggunakan rasionalitas untuk menyusun rencana-rencana untuk merealisasikan mimpi. Kedewasaan umur bukan berarti meniadakan imajinasi mimpi.

Selanjutnya, kunci penting adalah tetap optimis apapun yang terjadi. Kegagalan bukan alasan untuk meniadakan optimisme. Jika gagal, anggap saja kalau kita mesti berputar sebelum sampai ke tempat tujuan. Justru optimisme adalah “bahan bakar” penting yang membuat kita terus melaju. Optimisme bisa jadi semangat yang mendorong seseorang untuk terus melangkah.Apapun kesulitan yang menghadang, seorang yang optimis akan berusaha mencari kemudahan dari segala kesulitan.

Adapun seorang pesimis selalu membuat kondisi lingkungan jadi lebih menyebalkan. Alih-alih bersemangat, sifat pesimis justru membuat hidup tanpa energi dan melihat dari sisi yang buruk. Seorang pesimis selalu mencari dalih pembenaran dari kegagalan. Seorang pesimis selalu melihat kesulitan dari tiap peluang yang ada didepan mata.

Alhamdulillah, aku dilahirkan dari seorang ibu yang memiliki sifat optimis. Sifat optimis untuk mengantarkan anak-anaknya mendapatkan masa depan lebih baik. Barangkali sifat inilah yang menular kepadaku. Selalu optimis melihat masa depan. Bahkan ada yang pernah bilang kepadaku jika aku terlalu optimis. Well, apapun pendapat orang, prinsip yang aku pegang adalah “Hidup hanya sekali, lakukan yang terbaik yang bisa dilakukan”.

 

 

 

Posted by: aripmuttaqien | May 31, 2011

Tutup blog sebelah

FYI, blog sebelah di www.aripmuttaqien.info sudah ditutup dengan alasan tertentu.

Silakan mengikuti perkembangan disini saja.

 

Salam.

-arip muttaqien-

Posted by: aripmuttaqien | April 22, 2010

Blog Baru

Untuk tulisan berikutnya, bisa dilihat ke http://www.aripmuttaqien.info

Buat yang berniat mengunduh ebook, silakan klik http://www.aripmuttaqien.info/2010/09/02/mari-unduh-ebook-sukses-berburu-beasiswa-ke-luar-negeri-dari-internet/

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.